Menjahit Tanpa Bius: Kisah Dokter PDIP di Balik Tragedi Kudatuli 1996
Baca dalam 60 detik
- Ribka Tjiptaning, dokter yang ditugaskan Megawati, menjahit luka korban Kudatuli tanpa anestesi karena keterbatasan medis.
- Benang jahit pakaian terpaksa digunakan sebagai pengganti benang medis saat klinik partai tak bisa diakses.
- Peristiwa 27 Juli 1996 menjadi simbol perlawanan demokrasi yang dibayar mahal oleh aktivis dan masyarakat.

Tiga puluh tahun lalu, saat kantor PDI di Jalan Diponegoro diserbu massa, Ribka Tjiptaning—seorang dokter yang juga Ketua DPC PDI Kota Tangerang—menghadapi situasi darurat yang tak terlupakan: ia harus menjahit luka korban tanpa obat bius, bahkan melakukan amputasi jari dengan peralatan seadanya.
Ribka mendapat tugas langsung dari Megawati Soekarnoputri untuk menjaga kesehatan peserta Mimbar Demokrasi yang bertahan di kantor partai. Malam sebelum penyerbuan, Megawati sempat berencana datang, namun batal. Keesokan paginya, Kantor PDI telah diserang. Ribka segera menuju lokasi, tetapi ditarik rekan-rekannya ke kantor LBH Jakarta karena klinik partai sudah tak bisa digunakan.
Di tengah kepanikan dan keterbatasan, Ribka meminta seorang aktivis mengambil alat jahit luka dari Ciledug. Sayangnya, sang aktivis tidak memahami perlengkapan medis dan justru membawa benang jahit pakaian. "Akhirnya kami memakai benang jahit baju karena benang medis tidak ada," kenang Ribka di sela peringatan 30 tahun Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Jakarta Pusat, Senin.
Pengalaman itu menjadi salah satu momen paling berkesan dalam karier medis Ribka. Meski serba terbatas, ia menyebut luka-luka para korban justru sembuh dengan baik. "Saya bilang kalau sakit bilang 'Merdeka, Hidup Mega'," ujarnya, disambut tawa hadirin. Baginya, peristiwa itu tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga menjadi simbol perjuangan demokrasi yang dibayar mahal.
Kudatuli sendiri merupakan babak kelam dalam sejarah politik Indonesia, ketika kantor PDI yang saat itu beraliran oposisi diserbu oleh massa. Bagi publik Indonesia, peristiwa ini mengingatkan akan harga yang harus dibayar untuk mempertahankan suara politik. Hingga kini, PDIP terus mengenang Kudatuli sebagai api abadi penegak keadilan, sebagaimana diresmikannya monumen Kudatuli oleh Megawati pada pekan lalu. Pertanyaannya, apakah generasi muda saat ini masih memahami makna di balik tragedi 30 tahun silam itu?



