Perang Teluk Mengganas, Jepang Bawa Suara Asia ke KTT G7 demi Energi
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi akan melawat ke Inggris, Italia, dan Prancis untuk menghadiri KTT G7 di tengah krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz.
- Jepang mengklaim sebagai perwakilan Asia yang paling terdampak konflik Timur Tengah, mendorong stabilisasi pasar minyak mentah dan diversifikasi pasokan.
- Agenda bilateral dengan Inggris dan Italia mencakup keamanan ekonomi, teknologi canggih, serta kerja sama luar angkasa di tengah ketegangan Indo-Pasifik.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dijadwalkan memulai kunjungan ke Eropa akhir pekan ini dengan agenda utama memperkuat kerja sama keamanan energi di tengah konflik Timur Tengah yang kian memanas. Lawatan selama enam hari itu akan mencakup pertemuan bilateral dengan Inggris dan Italia, serta puncaknya adalah keikutsertaan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok Tujuh (G7) di Evian-les-Bains, Prancis.
Juru Bicara Pemerintah Jepang, Minoru Kihara, dalam konferensi pers Jumat (12/6) menegaskan bahwa Takaichi akan secara aktif menyuarakan posisi dan upaya Jepang dalam merespons dinamika Timur Tengah, terutama terkait pengamanan rantai pasok mineral kritis. “Mewakili Asia, kawasan yang paling terpukul oleh situasi Timur Tengah saat ini, Jepang akan memimpin diskusi G7 yang bertujuan memastikan keamanan energi global, khususnya stabilisasi pasar minyak mentah,” ujar Kihara.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak akhir Februari lalu telah menyebabkan penutupan efektif Selat Hormuz. Jalur strategis ini biasanya dilalui sekitar 20 persen minyak bumi dan gas alam cair dunia. Kondisi ini memaksa Jepang dan negara-negara lain untuk mencari pasokan alternatif, sekaligus mendorong lonjakan harga energi yang mengkhawatirkan.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi alarm tersendiri. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak global. Penutupan Selat Hormuz berpotensi memperpanjang tekanan pada anggaran subsidi energi dan neraca perdagangan. Langkah Jepang yang mendorong diversifikasi pasokan dan stabilitas harga di forum G7 dapat menjadi preseden positif bagi negara-negara Asia lainnya, termasuk Indonesia, yang sama-sama bergantung pada jalur energi yang rawan.
Selain isu Timur Tengah, KTT G7 juga akan membahas invasi Rusia ke Ukraina yang masih berlangsung serta meningkatnya ketegangan di kawasan Indo-Pasifik akibat pengaruh militer dan ekonomi China yang semakin besar. Dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Takaichi dijadwalkan membahas kerja sama di bidang keamanan ekonomi, teknologi mutakhir, keamanan nasional, ekonomi, sains, dan antariksa.
Langkah Jepang ini menunjukkan bahwa krisis energi akibat konflik geopolitik tidak bisa diatasi sendiri oleh satu negara. Forum multilateral seperti G7 menjadi panggung penting untuk merumuskan respons kolektif. Namun, pertanyaan besarnya adalah: sejauh mana negara-negara maju bersedia berbagi beban dengan negara berkembang yang paling terdampak? Jawabannya akan menentukan apakah arsitektur keamanan energi global benar-benar inklusif atau sekadar retorika.



