Piala Dunia 2026 Dimulai: Meksiko Pesta Gol, AS dan Kanada Bersiap di Laga Perdana
Baca dalam 60 detik
- Meksiko mengawali Piala Dunia 2026 dengan kemenangan 2-0 atas Afrika Selatan di Stadion Azteca, diwarnai gol cepat Julian Quinones dan sundulan emosional Raul Jimenez.
- Amerika Serikat dan Kanada akan memainkan laga perdana mereka di kandang sendiri pada Jumat, dengan AS menghadapi Paraguay dan Kanada menjajal Bosnia-Herzegovina.
- Pertandingan pembuka mencatatkan rekor tiga kartu merah, dua di antaranya untuk Afrika Selatan, sementara FIFA membela harga tiket yang menuai kritik.

Piala Dunia 2026 resmi bergulir dengan laga pembuka yang menyajikan dominasi tuan rumah Meksiko atas Afrika Selatan. Bermain di hadapan pendukungnya yang bergemuruh di Stadion Azteca, El Tri menang meyakinkan 2-0 pada Kamis (12/6) waktu setempat. Kemenangan ini langsung menempatkan Meksiko di puncak klasemen Grup A, sekaligus memberi tekanan pada dua tuan rumah lainnya, Amerika Serikat dan Kanada, yang akan memulai perjalanan mereka pada Jumat.
Gol pertama Piala Dunia edisi kali ini lahir pada menit kesembilan. Julian Quinones memanfaatkan umpan silang yang ditendangnya melalui celah kaki kiper Afrika Selatan, Ronwen Williams. Keunggulan Meksiko digandakan di babak kedua oleh Raul Jimenez lewat sundulan kepala. Momen itu terasa istimewa bagi Jimenez, yang sempat mengalami cedera serius—patah tulang tengkorak akibat benturan keras pada 2020—sebelum akhirnya mencetak gol pertamanya di panggung Piala Dunia. Air mata haru pun membasahi pipinya saat sorak sorai menggema di stadion.
Laga pembuka juga mencatatkan rekor kurang mengenakkan: tiga kartu merah, terbanyak sepanjang sejarah partai pembuka Piala Dunia. Dua di antaranya diterima pemain Afrika Selatan—Sphephelo Sithole dan Themba Zwane—sementara satu kartu merah untuk bek Meksiko, Cesar Montes, di masa injury time. Akibatnya, Afrika Selatan harus bermain dengan sepuluh orang sejak awal babak kedua, dan kedua pemainnya otomatis absen pada laga berikutnya melawan Republik Ceko.
Kini perhatian beralih ke dua tuan rumah lainnya. Kanada akan menjamu Bosnia-Herzegovina di Toronto pada pukul 15.00 ET. Tim berjuluk The Maple Leaf ini belum pernah merasakan kemenangan di Piala Dunia setelah dua partisipasi sebelumnya berakhir tanpa poin. Namun, kebangkitan sepak bola Kanada dalam satu dekade terakhir tidak bisa diabaikan. Peringkat FIFA mereka melesat dari bawah 100 pada 2017 menjadi posisi ke-30 saat ini. Sosok Jonathan David, penyerang Juventus yang menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa dengan 39 gol dalam 77 laga, diharapkan menjadi ujung tombak. Bosnia sendiri baru tampil kedua kalinya di Piala Dunia setelah 2014.
Sementara itu, Amerika Serikat akan berhadapan dengan Paraguay di Inglewood, California, pada pukul 21.00 ET. Tim asuhan Mauricio Pochettino—yang ditunjuk pada 2024 setelah sukses di sejumlah klub Eropa—berambisi melampaui pencapaian terbaik mereka, yaitu perempat final. Christian Pulisic, yang kini berada di puncak kariernya, menjadi tumpuan utama. Paraguay, yang kembali ke Piala Dunia setelah 16 tahun, adalah tim dengan peringkat terendah di Grup D (ke-47). Ramon Sosa dan Julio Enciso diyakini menjadi motor permainan mereka.
Di luar lapangan, Presiden FIFA Gianni Infantino kembali membela kebijakan harga tiket yang menuai kritik. Tiket termahal untuk final di luar New York mencapai 73.200 dolar AS untuk paket hospitality, sementara tiket reguler grup termurah 140 dolar. Infantino menyebut bahwa jika FIFA salah, maka semua penjual tiket di Amerika Utara juga salah. Ia juga mengungkapkan ketidakberdayaan FIFA dalam mengurus visa wasit asal Somalia yang ditolak masuk AS, namun memuji kemampuannya membawa tim nasional Iran ke Amerika Serikat.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, Piala Dunia 2026 menawarkan tontonan yang sarat drama dan persaingan ketat sejak awal. Dengan tiga tuan rumah yang sama-sama ambisius, turnamen ini menjadi ajang pembuktian bagi negara-negara yang jarang menjadi pusat perhatian. Pertanyaan besarnya: akankah Kanada akhirnya memetik kemenangan perdananya, atau justru AS yang mampu menembus batas sejarah mereka di perempat final?

