Harga Minyak Anjlok di Bawah 90 Dolar: Isyarat Damai AS-Iran dan Proyeksi OPEC
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI merosot lebih dari 2% setelah Trump batalkan serangan ke Iran dan isyaratkan kesepakatan damai.
- Kesepakatan potensial membuka kembali Selat Hormuz, mengerek pasokan global dan menekan harga energi.
- OPEC proyeksikan permintaan minyak 2026 naik 1 juta barel per hari, namun pasar tetap waspada risiko eskalasi.

Harga minyak mentah dunia ambrol di bawah level psikologis 90 dolar AS per barel pada Jumat (14/3) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran dan mengisyaratkan kesepakatan damai permanen dapat diteken dalam hitungan hari. Pergerakan ini menjadi sinyal terkuat dalam sepekan terakhir bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah mungkin mereda, membuka peluang kembalinya aliran minyak dari Selat Hormuz.
Brent crude, acuan harga minyak global, ditutup di 88,41 dolar AS per barel—turun 2,2 persen dari posisi sebelumnya 90,38 dolar. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) terpangkas sekitar 2 persen ke 85,98 dolar AS per barel. Tekanan jual juga melanda produk turunan: harga minyak pemanas (heating oil) merosot 4 persen ke 3,5 dolar per galon, dan indeks gas Eropa TTF turun 1,9 persen ke 49 euro per megawatt-jam.
Koreksi ini dipicu pernyataan Trump di Ruang Oval pada Kamis (13/3) bahwa perang AS-Israel melawan Iran akan segera berakhir. “Kami baru saja mencapai penyelesaian besar atas perang dengan Iran, dan kami akan melakukan finalisasi dokumen dalam beberapa hari ke depan. Mungkin penandatanganan dilakukan di Eropa,” ujarnya. Iran pun mengonfirmasi bahwa “bagian utama” dari teks kesepahaman dengan AS telah rampung, meski juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei menuding Washington kerap mengubah posisi.
Di sisi fundamental, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam laporan terbaru memproyeksikan permintaan minyak global tahun 2026 akan bertambah 1 juta barel per hari (bpd) menjadi 106,13 juta bpd. Untuk 2027, pertumbuhan diperkirakan mencapai 1,7 juta bpd, mendorong total konsumsi ke 107,86 juta bpd. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi sebelumnya, menambah tekanan pada harga di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak mentah berpotensi meringankan beban subsidi energi dan defisit neraca perdagangan migas. Namun, analis mengingatkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap setiap tanda negosiasi yang gagal atau gangguan baru di Selat Hormuz—jalur transit sepertiga minyak dunia. “Reli ini belum sepenuhnya aman. Jika kesepakatan batal, harga bisa kembali melesat di atas 90 dolar,” ujar seorang analis komoditas yang enggan disebut namanya.
Ke depan, fokus tertuju pada proses penandatanganan dokumen damai yang dijadwalkan akhir pekan ini. Jika terealisasi, bukan tidak mungkin harga minyak akan terus tertekan dalam jangka pendek. Namun, pertanyaan besarnya: akankah gencatan senjata ini bertahan, atau hanya jeda sesaat sebelum babak baru konflik?



