Aturan Kartu Merah Piala Dunia 2026: Satu Laga Skorsing, Tapi Ada Peringatan Tambahan
Baca dalam 60 detik
- Pemain yang menerima kartu merah di Piala Dunia 2026 otomatis diskors satu pertandingan, baik kartu merah langsung maupun akumulasi dua kartu kuning.
- FIFA berhak menjatuhkan sanksi tambahan di luar skorsing standar, tergantung pada tingkat pelanggaran.
- Kartu kuning dihapus setelah fase grup dan perempat final, memberi kesempatan pemain untuk 'bersih' di babak gugur.

FIFA telah menegaskan bahwa setiap pemain yang mendapatkan kartu merah pada Piala Dunia 2026 akan otomatis menjalani skorsing satu pertandingan. Aturan ini berlaku baik untuk kartu merah langsung maupun yang diakibatkan oleh akumulasi dua kartu kuning dalam satu laga. Namun, badan sepak bola dunia itu juga menyimpan hak untuk menjatuhkan sanksi tambahan jika dianggap perlu.
Ketentuan ini langsung teruji pada laga pembuka turnamen, di mana tiga kartu merah dikeluarkan. Akibatnya, dua pemain Afrika Selatan, Yaya Sithole dan Themba Zwane, harus absen saat timnya menghadapi Republik Ceko. Sementara itu, bek Meksiko Cesar Montes juga dipastikan tidak akan tampil melawan Korea Selatan setelah menerima kartu merah di menit akhir kemenangan timnya atas Afrika Selatan.
Selain sanksi langsung, pemain juga bisa terkena skorsing karena akumulasi pelanggaran di beberapa pertandingan. Jika seorang pemain mengumpulkan dua kartu kuning, ia akan dihukum larangan bermain satu laga. Namun, ada jeda pembersihan: kartu kuning akan dihapus setelah fase grup berakhir, dan kembali dihapus setelah perempat final. Ini memberi kesempatan bagi pemain untuk memulai babak gugur tanpa beban kartu.
Bagi tim nasional Indonesia, aturan ini menjadi pengingat pentingnya disiplin pemain. Meski Indonesia belum lolos ke Piala Dunia 2026, pemain yang berlaga di kualifikasi atau turnamen internasional lain perlu memahami konsekuensi kartu merah. Pelatih timnas, Shin Tae-yong, kerap menekankan pentingnya pengendalian emosi di lapangan, terutama saat menghadapi tekanan tinggi.
Menurut analis sepak bola, kebijakan FIFA ini bertujuan menjaga sportivitas dan mengurangi pelanggaran keras. Namun, beberapa pihak mengkritik bahwa skorsing satu pertandingan terlalu ringan untuk pelanggaran serius. Sebaliknya, pembersihan kartu kuning di fase tertentu dinilai memberikan keuntungan bagi tim yang bermain lebih agresif di awal turnamen.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah FIFA akan mempertimbangkan perubahan aturan untuk turnamen mendatang, terutama dengan meningkatnya intensitas pertandingan. Sementara itu, pemain dan pelatih harus terus beradaptasi agar tidak terjebak dalam sanksi yang bisa merugikan tim.
