Rupiah Tertekan di Tengah Defisit Neraca Pembayaran: Berapa Potensi Penguatannya?
Baca dalam 60 detik
- Neraca pembayaran Indonesia mencatat defisit US$9,1 miliar pada kuartal I 2026, menekan cadangan devisa hingga turun ke US$144,9 miliar.
- Ekonom menilai pelemahan rupiah dipicu oleh defisit transaksi berjalan dan arus keluar modal portofolio yang besar.
- Stabilitas rupiah ke depan bergantung pada kemampuan menjaga surplus neraca perdagangan dan menarik investasi langsung asing.

Neraca pembayaran Indonesia yang terus memburuk menjadi sinyal waspada bagi pergerakan rupiah, yang sebelumnya sempat menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Ekonom senior Raden Pardede mengungkapkan bahwa kondisi fundamental ekonomi, terutama cadangan devisa dan neraca pembayaran, menjadi penentu utama arah mata uang Garuda ke depan.
Menurut Raden, tekanan terhadap rupiah tidak bisa dilepaskan dari memburuknya neraca pembayaran Indonesia. Pada triwulan I 2026, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat defisit sebesar US$9,1 miliar. Defisit ini berasal dari transaksi berjalan yang minus US$4,0 miliar (1,1% dari PDB) dan transaksi modal serta finansial yang defisit US$4,9 miliar. "Kalau balance of payment terus negatif, cadangan devisa kita akan turun dan amunisi untuk menstabilkan rupiah semakin terbatas," ujar Raden dalam diskusi di CNBC Indonesia.
Kondisi ini diperparah oleh arus keluar modal portofolio yang signifikan. Raden menjelaskan bahwa financial account Indonesia sebelumnya sempat positif berkat aliran FDI, namun kini portofolio investasi asing justru mencatatkan posisi negatif yang cukup besar. Akibatnya, cadangan devisa yang pada awal 2026 masih sebesar US$154,6 miliar, terkikis menjadi US$144,9 miliar pada Mei 2026. Penurunan ini menunjukkan bahwa intervensi Bank Indonesia belum sepenuhnya mampu membendung tekanan.
Di sisi lain, transaksi berjalan Indonesia mengalami defisit karena dua komponen utama: neraca perdagangan yang masih positif namun menurun akibat kenaikan harga minyak, dan neraca jasa yang selalu negatif. "Trade balance kita masih positif, tapi sudah turun karena impor minyak yang lebih mahal. Sementara neraca jasa kita defisit terus, sehingga current account jadi negatif," papar Raden. Defisit transaksi berjalan ini menjadi beban struktural yang sulit diatasi dalam jangka pendek.
Selain faktor eksternal, defisit anggaran pemerintah juga ikut membebani rupiah. Raden menambahkan bahwa besarnya defisit fiskal mendorong kepemilikan asing atas surat utang negara, yang rentan terhadap aksi jual saat sentimen global memburuk. "Kalau defisit anggaran besar, ada juga yang memegang uang ini di luar negeri. Gabungan dari semua faktor inilah yang menentukan nilai tukar," jelasnya. Faktor politik, baik domestik maupun geopolitik global, turut memperkuat volatilitas rupiah.
Bagi pelaku pasar dan investor di Indonesia, kondisi ini menuntut kewaspadaan. Dengan cadangan devisa yang terus menipis dan defisit neraca pembayaran yang melebar, ruang bagi Bank Indonesia untuk menahan pelemahan rupiah semakin sempit. Pertanyaan besarnya adalah: apakah pemerintah mampu mendorong investasi langsung asing dan menjaga surplus perdagangan cukup besar untuk membalikkan arah neraca pembayaran? Jika tidak, tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.



