Impian Skotlandia di Piala Dunia 2026: Robertson Ingin Ciptakan Sejarah Baru
Baca dalam 60 detik
- Kapten Skotlandia Andy Robertson akan memimpin timnya di Piala Dunia 2026, setelah 28 tahun absen dari turnamen terbesar sepak bola.
- Skotlandia tergabung di Grup C bersama Brasil, Maroko, dan Haiti, dengan target lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya.
- Robertson menekankan bahwa masa lalu tidak akan membebani timnya; mereka fokus menciptakan cerita sendiri di panggung dunia.
Andy Robertson, kapten tim nasional Skotlandia, akhirnya akan mewujudkan mimpi yang telah lama dinantikan: berlaga di Piala Dunia. Setelah absen selama 28 tahun, Skotlandia kembali ke panggung terbesar sepak bola pada edisi 2026 yang digelar di Amerika Utara. Bagi Robertson, yang akan bergabung dengan Tottenham Hotspur pada 1 Juli mendatang, turnamen ini menjadi puncak perjalanan karier yang penuh liku dan pengorbanan.
Perjalanan Robertson menuju puncak bukanlah tanpa rintangan. Pada usia 15 tahun, ia sempat dibuang oleh klub masa kecilnya, Celtic, karena dianggap terlalu kecil secara fisik. Namun, kegagalan itu justru menjadi batu loncatan. "Itu adalah momen besar bagi saya, merasakan penolakan untuk pertama kalinya, kesedihan, dan segala hal yang menyertainya. Tapi saya belajar untuk bangkit kembali," ujar Robertson dalam wawancara dengan FIFA. Ketangguhan mental itu yang kemudian membawanya dari Queen's Park ke Liverpool, meraih gelar domestik dan Eropa, hingga kini menjadi kapten tim nasional.
Skotlandia tergabung dalam Grup C yang menantang bersama Brasil, Maroko, dan Haiti. Laga perdana akan dimainkan melawan Haiti pada 13 Juni, disusul Maroko, dan ditutup dengan duel melawan Brasil yang diperkuat deretan bintang asuhan Carlo Ancelotti. Pertemuan terakhir Skotlandia dengan Brasil terjadi di Piala Dunia 1998, saat mereka kalah tipis 1-2 di Stade de France. Namun, Robertson menegaskan bahwa catatan masa lalu tidak akan mempengaruhi mentalitas timnya. "Kami ingin menciptakan sejarah kami sendiri. Kami menghormati masa lalu, tapi itu tidak akan menentukan hasil pertandingan nanti," tegasnya.
Ambisi Skotlandia tidak hanya sekadar tampil, tetapi juga melaju ke babak gugur untuk pertama kalinya. Robertson menyebut target itu realistis. "Kami tahu grup ini sulit, tapi kami juga percaya pada kemampuan kami. Jika bisa mencapai babak 32 besar, itu akan menjadi sejarah baru," katanya. Keberhasilan lolos ke tiga dari empat turnamen besar terakhir menunjukkan konsistensi yang patut diperhitungkan.
Bagi Indonesia, perjalanan Skotlandia bisa menjadi inspirasi. Negara dengan populasi sekitar 5,5 juta jiwa ini membuktikan bahwa keterbatasan sumber daya bukan halangan untuk bersaing di level tertinggi. Semangat pantang menyerah Robertson, yang bangkit dari penolakan di usia muda, menjadi cermin bagi pesepak bola muda Indonesia yang kerap menghadapi kendala serupa. Akankah Skotlandia akhirnya memecahkan kutukan fase grup? Atau justru Brasil dan Maroko yang akan mendominasi? Jawabannya akan terungkap di Amerika Utara tahun depan.
