El Nino Dipastikan Terbentuk, Ilmuwan Peringatkan Dampak Ekstrem dan Biaya Mahal
Baca dalam 60 detik
- Fenomena El Nino telah resmi terdeteksi di Samudra Pasifik dan diprediksi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah, berpotensi memicu bencana iklim global.
- Pemanasan global akibat emisi fosil memperkuat siklus alami ini, meningkatkan risiko gelombang panas, banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan di berbagai belahan dunia.
- Bagi Indonesia, El Nino kerap memicu musim kemarau yang lebih panjang dan meningkatkan ancaman kebakaran hutan serta gagal panen, sehingga kesiapsiagaan menjadi krusial.

Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) resmi mengumumkan bahwa El Nino telah terbentuk di Samudra Pasifik yang menghangat, dan para ahli meteorologi memperkirakan fenomena ini akan mencapai kekuatan bersejarah dengan dampak yang meluas dan mahal.
El Nino, siklus pemanasan alami di Pasifik khatulistiwa, diprediksi akan memperparah pemanasan global yang sudah terjadi akibat polusi bahan bakar fosil. Menurut NOAA, terdapat kemungkinan 63 persen bahwa El Nino ini akan menjadi salah satu yang terbesar sejak pencatatan dimulai pada 1950, terutama pada akhir musim gugur dan awal musim dingin mendatang.
Para ilmuwan iklim memperingatkan bahwa fenomena ini dapat memicu serangkaian cuaca ekstrem di seluruh dunia, mulai dari gelombang panas, banjir, kekeringan, hingga kebakaran hutan. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut El Nino sebagai "peringatan iklim yang mendesak" dan mengatakan bahwa kondisi El Nino akan "menuangkan bahan bakar ke dalam api dunia yang memanas."
Dampak El Nino tidak seragam di seluruh dunia. Di kawasan Amerika Selatan bagian barat, hujan lebat dan banjir menjadi ancaman utama, sementara India menghadapi gelombang panas yang lebih intens. Australia terancam kekeringan dan kebakaran hutan, dan Afrika Timur Laut berpotensi mengalami peralihan ekstrem dari kekeringan parah ke hujan deras. Di Amerika Serikat, El Nino dapat meredam aktivitas badai Atlantik namun meningkatkan risiko di Pasifik, termasuk Hawaii dan kepulauan lainnya.
Bagi Indonesia, El Nino sering kali membawa dampak serius. Fenomena ini umumnya menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang dan kering, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta mengancam produksi pangan akibat gagal panen. Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam laporan, pola historis menunjukkan bahwa Indonesia perlu waspada terhadap potensi kekeringan ekstrem dan dampaknya terhadap sektor pertanian serta ketersediaan air bersih.
Para ilmuwan mencatat bahwa El Nino kali ini menunjukkan tanda-tanda awal yang kuat, termasuk air hangat yang mendorong ke permukaan Pasifik. Gabriel Vecchi, ilmuwan iklim dari Princeton University, mengatakan bahwa prakiraan El Nino sering kali berbeda-beda pada saat ini, namun kali ini semua peramal sepakat memprediksi kekuatan yang sangat besar. Bahkan, El Nino ini telah dijuluki "super" atau "Godzilla" sebelum resmi terbentuk.
Meskipun ada kekhawatiran, Muhammad Azhar Ehsan dari Columbia University mengingatkan agar masyarakat tidak perlu takut, melainkan bersiap. "Alih-alih takut, kita bisa meminta orang untuk bersiap," ujarnya. Kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem, termasuk mitigasi bencana dan adaptasi pertanian, menjadi kunci dalam menghadapi fenomena iklim yang tak terhindarkan ini.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana El Nino ini akan mempercepat pemanasan global dan apakah dunia mampu menekan emisi untuk mengurangi frekuensi kejadian serupa di masa mendatang. Dengan prediksi bahwa 2027 bisa menjadi tahun terpanas, tekanan terhadap negara-negara untuk memenuhi target iklim semakin besar.



