Jude Bellingham: Kunci Sukses Inggris di Piala Dunia 2026 Adalah Rasa Dicintai
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Timnas Inggris, Jude Bellingham, menekankan pentingnya atmosfer saling mendukung di skuad untuk meraih gelar Piala Dunia 2026.
- Pengalaman pahit di Euro 2024, di mana ia merasa menjadi kambing hitam, menjadi pelajaran berharga untuk membangun kebersamaan tim.
- Inggris akan memulai perjuangan mereka melawan Kroasia pada 18 Juni 2026 di Arlington, Texas, dengan target mengakhiri puasa gelar sejak 1966.

Gelandang Timnas Inggris, Jude Bellingham, mengungkapkan bahwa faktor psikologis berupa rasa dicintai dan dihargai menjadi elemen krusial dalam upaya skuad Three Lions merebut trofi Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. Pernyataan ini muncul di tengah persiapan Inggris menjelang laga perdana mereka melawan Kroasia pada 18 Juni mendatang di Arlington, Texas.
Bellingham, yang menjadi bagian dari tim Inggris yang mencapai final Euro 2024, mengakui bahwa kegagalan di turnamen tersebut sebagian besar disebabkan oleh kurangnya kohesi di luar lapangan. Ia merasa menjadi kambing hitam atas kegagalan tim saat itu, yang membuatnya sadar bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh ikatan emosional antar pemain.
“Di Euro, kami melakukan beberapa hal yang kurang tepat di luar lapangan. Saya rasa kelompok ini tidak terhubung dengan baik karena sejumlah alasan. Ekspektasi yang tinggi menjadi salah satu faktornya,” ujar Bellingham dalam program Lions' Den milik Federasi Sepak Bola Inggris (FA). Ia menambahkan bahwa meskipun tim menang, suasana hati tidak sebahagia yang seharusnya karena performa yang kurang meyakinkan.
Pemain berusia 22 tahun itu menekankan bahwa pengalaman pahit tersebut menjadi pelajaran berharga. “Kali ini, kami harus siap karena pencetak gol kemenangan di final Piala Dunia belum tentu pemain yang Anda kira. Semua orang harus merasa dicintai dan menjadi bagian besar dari tim. Hal lainnya adalah menikmati momen,” tegasnya.
Senada dengan Bellingham, rekan setimnya Morgan Rogers, yang juga bersaing untuk posisi gelandang serang, menegaskan bahwa kekompakan tim saat ini jauh lebih baik dibandingkan turnamen sebelumnya. “Kami benar-benar selaras. Sangat mudah bagi siapa pun untuk menyesuaikan diri dalam grup ini, tanpa memandang asal klub atau usia. Sungguh menyenangkan berada di sini,” ujar pemain Aston Villa itu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pernyataan Bellingham ini memberikan gambaran bahwa kesuksesan di level tertinggi tidak hanya bergantung pada taktik atau bakat individu, melainkan juga pada manajemen psikologis tim. Pelajaran ini relevan bagi perkembangan sepak bola nasional, di mana tekanan dan ekspektasi sering kali menjadi beban pemain. Dengan pendekatan yang lebih manusiawi, tim-tim Indonesia diharapkan dapat belajar dari pengalaman Inggris untuk membangun mental juara.
Pelatih Inggris saat ini, Thomas Tuchel, memiliki tugas berat untuk memastikan Bellingham dan kawan-kawan tampil maksimal. Pertanyaan besarnya: mampukah Inggris mengatasi trauma masa lalu dan akhirnya mengakhiri penantian gelar selama 60 tahun? Jawabannya akan mulai terlihat saat mereka berhadapan dengan Kroasia pekan depan.
