Tim Allen: Saya Tak Menduga 'Toy Story' Bertahan Sebegitu Lama
Baca dalam 60 detik
- Tim Allen, pengisi suara Buzz Lightyear, mengaku terkejut waralaba 'Toy Story' masih relevan setelah hampir tiga dekade.
- Pixar dinilai berani mengangkat konflik mainan versus teknologi di 'Toy Story 5' sebagai kritik terhadap kecanduan gawai anak.
- Allen menyamakan dampak emosional karakter Woody dan Buzz bagi generasi sekarang seperti Mickey Mouse dan Donald Duck di masa kecilnya.

Lebih dari seperempat abad setelah pertama kali memperkenalkan Buzz Lightyear ke layar lebar, Tim Allen masih tak percaya waralaba Toy Story mampu bertahan dan terus memikat hati penonton lintas generasi. Aktor berusia 72 tahun itu mengaku bahwa saat mengawali proyek pada 1995, ia dan tim produksi sama sekali tidak membayangkan film animasi ini akan menjadi fenomena global yang berumur panjang.
Dalam wawancara dengan Us Weekly, Allen mengungkapkan bahwa pada awal perjalanan Toy Story, bahkan para petinggi studio pun ragu apakah konsep mainan hidup ini akan diterima pasar. “Saat pertama melihat hasil akhir, semua orang di ruangan bingung. Mereka tidak yakin film ini bisa ‘nyambung’ dan sempat berpikir untuk langsung merilisnya dalam format DVD saja,” kenangnya. Keraguan itu berbanding terbalik dengan kenyataan: Toy Story justru menjadi tonggak sejarah animasi komputer dan melahirkan empat sekuel serta berbagai produk turunan.
Memasuki film kelima yang direncanakan rilis tahun depan, Pixar mengambil langkah berani dengan mengangkat konflik antara mainan klasik dan dominasi teknologi. Allen menyebut premis tersebut sebagai sesuatu yang “courageous” (berani) mengingat Pixar sendiri adalah perusahaan yang identik dengan inovasi digital. “Mereka justru menyoroti dampak negatif teknologi. Adegan ketika anak-anak asyik dengan ponsel di rumah membuat ruang pemutaran hening. Ini pesan yang kuat untuk mengajak anak-anak kembali bermain secara nyata,” ujarnya.
Bagi Allen, kebanggaan terbesar adalah melihat reaksi anak-anak saat bertemu langsung dengan karakter yang ia dan Tom Hanks hidupkan. “Saat saya ucapkan ‘To infinity… and beyond!’, lalu Tom menyuruh mereka memejamkan mata dan berbalik, lalu kami memerankan Woody dan Buzz—ekspresi mereka sungguh tak ternilai,” ceritanya. Allen bahkan menyamakan dampak emosional Woody dan Buzz bagi generasi sekarang dengan apa yang Mickey Mouse dan Donald Duck berikan padanya di masa kecil. Ia pun berseloroh bahwa sudah saatnya Disney membuat proyek besar untuk dua karakter klasik itu.
Di sisi lain, Allen mengakui bahwa ia sempat mengira petualangan mainan Andy berakhir setelah Toy Story 3 (2010). “Saya pikir itu akhir yang sempurna,” katanya kepada Radio Times. Namun, kesempatan bersatu kembali dengan Tom Hanks di Toy Story 4 dan Toy Story 5 membuatnya bersyukur. Ia bahkan meminta kepada sutradara agar ada momen reuni emosional antara Buzz dan Woody setelah perpisahan di film keempat. “Saya bilang, saya sangat sulit mengucapkan selamat tinggal pada karakter ini. Momen pertemuan mereka harus ada, meski singkat. Dan itu terwujud,” pungkasnya.
Bagi penonton Indonesia, waralaba Toy Story juga memiliki tempat khusus. Film-film ini kerap tayang di bioskop tanah air dengan sulih suara lokal yang ikonik, dan karakter Buzz Lightyear menjadi favorit anak-anak 90-an hingga sekarang. Dengan tema Toy Story 5 yang mengkritik kecanduan gawai, pesan tersebut terasa relevan di tengah tingginya penetrasi smartphone di kalangan anak Indonesia. Pertanyaannya, mampukah pesan “kembali bermain” ini mengubah kebiasaan digital generasi muda, atau justru hanya menjadi nostalgia belaka?



