Skandal David Sullivan: Stadion London dan Tim Putri West Ham Tak Tahu Soal Pembatasan Akses
Baca dalam 60 detik
- Pengelola London Stadium mengaku tak diberi tahu soal pembatasan akses David Sullivan ke tim muda dan putri West Ham, sehingga tidak bisa melakukan asesmen risiko.
- Pembatasan itu diputuskan oleh grup pengamanan yang terdiri dari klub, FA, dan otoritas setempat setelah adanya tuduhan pelecehan seksual terhadap Sullivan.
- Kasus ini menyoroti celah dalam prosedur perlindungan anak dan perempuan di sepak bola Inggris, yang bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub di Indonesia.

Pengelola London Stadium, markas West Ham United, mengungkapkan kekhawatiran mereka tidak diberi tahu tentang pembatasan akses yang dikenakan pada salah satu pemilik klub, David Sullivan, terkait kasus dugaan pelecehan seksual. Mereka menilai seharusnya informasi itu disampaikan agar bisa melakukan penilaian risiko dan memastikan langkah perlindungan bagi staf, kontraktor, dan publik.
Pembatasan tersebut diputuskan oleh sebuah grup pengamanan yang terdiri dari West Ham, Federasi Sepak Bola Inggris (FA), dan otoritas setempat pada 2023. Sullivan, 77 tahun, dilarang berinteraksi secara pribadi dengan pemain akademi dan tim putri West Ham hingga keluhan anonim yang diajukan terhadapnya selesai ditangani. Langkah ini diambil setelah FA membuka penyelidikan pengamanan atas tuduhan bahwa Sullivan melakukan perilaku eksploitatif dan predator seksual terhadap sejumlah perempuan.
Dalam pernyataannya, Sullivan membantah keras tuduhan tersebut dan menyebut pembatasan itu tidak berarti karena tidak memengaruhi pekerjaannya. Ia bahkan mengaku tidak pernah bertemu langsung dengan pemain akademi atau tim putri selama 16 tahun berkarier di West Ham. Namun, pihak London Stadium dan tim putri West Ham, serta Women's Super League, mengaku tidak mengetahui adanya pembatasan itu. Mereka baru mengetahuinya setelah investigasi BBC Panorama dan The Times mengungkap kasus ini.
Juru bicara West Ham menyatakan bahwa sesuai praktik terbaik pengamanan yang disepakati dengan lembaga eksternal independen, hanya pihak yang terlibat langsung dalam proses pengamanan yang diberi tahu. Jumlah orang yang mendapat informasi sengaja dibatasi seminimal mungkin. Namun, langkah ini justru memicu pertanyaan tentang efektivitas komunikasi dalam menangani kasus sensitif seperti ini.
Kasus David Sullivan menjadi sorotan karena melibatkan figur berpengaruh di sepak bola Inggris. Sullivan, yang juga dikenal sebagai pengusaha pornografi dan media, telah membantah semua tuduhan. Ia menegaskan bahwa keluhan tersebut tidak ada hubungannya dengan masa baktinya di sepak bola dan tidak pernah terjadi. FA sendiri enggan berkomentar detail, hanya menyatakan memiliki prosedur pengamanan yang ketat.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya transparansi dan koordinasi dalam penanganan kasus pelecehan di lingkungan olahraga. Klub-klub di Indonesia, terutama yang memiliki akademi dan tim putri, perlu memastikan bahwa prosedur pengamanan berjalan dengan baik dan semua pihak terkait mendapat informasi yang memadai. Kegagalan berkomunikasi seperti yang terjadi di West Ham bisa membuka celah risiko yang tidak diinginkan.
Ke depan, publik akan menanti bagaimana FA dan West Ham menyelesaikan kasus ini. Apakah akan ada sanksi lebih lanjut terhadap Sullivan? Atau justru muncul tuntutan reformasi prosedur pengamanan di sepak bola Inggris? Yang jelas, kasus ini telah membuka mata banyak pihak bahwa perlindungan anak dan perempuan di sepak bola harus menjadi prioritas mutlak.



