Terapi Hormon Menopause Turunkan Risiko Pengeroposan Tulang Hingga 69%
Baca dalam 60 detik
- Studi pada 387 wanita pascamenopause menunjukkan pengguna terapi hormon memiliki risiko kepadatan tulang rendah 69% lebih kecil dibanding non-pengguna.
- Temuan ini memperkuat bukti bahwa MHT tidak hanya meredakan gejala menopause tetapi juga melindungi kesehatan tulang, terutama di tulang belakang dan pinggul.
- Meski efektif, terapi ini tidak cocok untuk semua wanita dan memerlukan evaluasi risiko individu, termasuk kanker rahim dan penyakit kardiovaskular.

Wanita yang menjalani terapi hormon menopause (MHT) memiliki kemungkinan 69% lebih rendah mengalami kepadatan mineral tulang rendah dibandingkan mereka yang tidak menjalani terapi, demikian temuan studi terbaru yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Endocrine Society di Chicago. Temuan ini menjadi angin segar bagi jutaan wanita yang menghadapi risiko osteoporosis pascamenopause.
Penelitian retrospektif yang melibatkan 387 wanita pascamenopause dengan usia rata-rata 59,8 tahun ini menganalisis hasil pemindaian DEXA antara 2021 hingga 2025. Dari kelompok tersebut, 129 wanita menggunakan MHT sementara 258 lainnya tidak. Hasilnya, 56,2% non-pengguna mengalami kepadatan tulang rendah, bandingkan dengan hanya 31,8% pada kelompok pengguna MHT. Perbedaan signifikan juga terlihat pada skor T di tulang belakang lumbar dan pinggul total, dua area yang rentan patah tulang pada wanita lanjut usia.
โIni adalah bukti dunia nyata yang mendukung hubungan antara MHT dan kesehatan tulang yang lebih baik,โ ujar Diego Espinoza-Peralta, endokrinolog asal Meksiko yang memimpin studi. Ia menambahkan bahwa setelah memperhitungkan faktor risiko klinis utama, odds kepadatan tulang rendah pada pengguna MHT tetap 69% lebih rendah. Meski demikian, Espinoza-Peralta mengingatkan bahwa studi observasional ini hanya menunjukkan asosiasi, bukan kausalitas.
Dr. Paula Briggs dari University of Liverpool menyambut temuan ini namun tidak terkejut. Ia merujuk pada studi Womenโs Health Initiative 2002 yang menunjukkan penurunan 34% risiko patah tulang pinggul dan 30% penurunan patah tulang total pada pengguna terapi hormon. โTerapi hormon mencegah kehilangan tulang yang dapat menyebabkan osteoporosis dan meningkatkan kualitas hidup,โ tegasnya.
Di Indonesia, osteoporosis menjadi masalah kesehatan yang kerap terabaikan. Data International Osteoporosis Foundation menunjukkan satu dari tiga wanita Indonesia di atas 50 tahun berisiko mengalami patah tulang akibat osteoporosis. Minimnya kesadaran dan akses terhadap terapi pencegahan menjadi tantangan. Temuan ini bisa mendorong diskusi lebih luas tentang manfaat MHT, terutama bagi wanita yang mengalami gejala menopause berat.
Namun, MHT bukan tanpa risiko. Dr. Ruthann Devera, OBGYN dari MemorialCare Medical Group, mengingatkan bahwa estradiol dapat mengaktifkan lapisan rahim sehingga meningkatkan risiko kanker rahim pada wanita yang masih memiliki rahim. Risiko lain termasuk serangan jantung, stroke, dan kanker payudara, yang bervariasi tergantung riwayat medis dan usia. โKeputusan memulai MHT harus individual, dengan tujuan pengobatan yang jelas,โ ujarnya.
Ke depan, para ahli berharap studi lanjutan dengan desain lebih ketat dapat memperkuat bukti ini. Pertanyaan yang mengemuka: akankah MHT menjadi pilihan utama dalam strategi pencegahan osteoporosis di Indonesia, atau justru kendala biaya dan efek samping membatasi penggunaannya?


