Suhu Udara 43,5°C, Permukaan Jalan Delhi Tembus 64°C: Ancaman Nyata bagi Warga Miskin Kota
Baca dalam 60 detik
- Permukaan jalan di Delhi mencapai 64°C, jauh di atas suhu udara resmi 43,5°C, memperparah risiko kesehatan akibat gelombang panas.
- Warga miskin yang bekerja di luar ruangan paling terdampak, tanpa akses pendingin dan harus bertahan di lingkungan yang mematikan.
- Fenomena ini menjadi peringatan bagi kota-kota padat di Indonesia, di mana urbanisasi dan minimnya ruang hijau meningkatkan bahaya panas ekstrem.

Gelombang panas yang melanda Delhi, India, dalam beberapa pekan terakhir bukan sekadar angka di termometer. Saat Badan Meteorologi India (IMD) mencatat suhu udara maksimum 43,5 derajat Celsius pada Selasa lalu, kamera termal yang digunakan Greenpeace India justru merekam suhu permukaan jalan hingga 64 derajat Celsius di sejumlah titik. Perbedaan ini menjelaskan mengapa warga merasa jauh lebih panas daripada yang dilaporkan, dan mengapa mereka yang hidup di pinggiran kota menjadi korban paling rentan.
IMD mengukur suhu udara dalam kondisi standar—teduh, berventilasi, dan jauh dari permukaan panas. Namun, di dunia nyata, aspal, beton, kendaraan, dan bangunan menyerap radiasi matahari dan melepaskannya kembali, menciptakan lingkungan yang jauh lebih gerah. Di persimpangan IIT Flyover, kawasan tersibuk di Delhi selatan, suhu permukaan di bawah sinar matahari langsung mencapai 64°C, sementara di bawah pohon yang sama hanya berjarak tiga meter, suhu turun drastis menjadi 39,8°C. "Perbedaan satu pohon saja bisa menyelamatkan," ujar Nibedita Saha, peneliti Greenpeace India.
Dampak kesehatan pun mengintai. Dr. A. Fathahudeen, spesialis paru, menjelaskan bahwa suhu inti tubuh manusia normalnya 37°C. Jika terpapar panas berlebih, suhu tubuh bisa naik melebihi 40°C, menyebabkan kelelahan panas, sakit kepala, kebingungan, hingga kejang. "Jika tidak ditangani segera, bisa terjadi kegagalan organ ganda yang berujung kematian," tegasnya. Ia merekomendasikan pekerja di luar ruangan untuk tidak bekerja antara pukul 10.30 hingga 15.00—sebuah saran yang sulit diikuti oleh warga miskin yang harus mencari nafkah.
Di kawasan Red Fort, para pedagang kaki lima seperti Sanjana Ben yang menjual kacang-kacangan di trotoar harus bertahan dengan suhu tanah mencapai 57°C. "Kadang kepala saya pusing dan penglihatan kabur. Kalau tanah terasa panas, saya berdiri sebentar, tapi lama-lama saya duduk lagi," katanya. Mohammad Mahfouz Alam, penjual alas kaki, menambahkan bahwa panas terasa dari atas dan bawah, membuatnya lelah dan sulit tidur meski sudah mandi. "Kipas angin hanya menghembuskan udara panas," keluhnya.
Fenomena ini bukan hanya masalah India. Di Indonesia, kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung menghadapi risiko serupa. Urbanisasi yang pesat, berkurangnya ruang terbuka hijau, dan maraknya bangunan beton menciptakan efek pulau panas perkotaan (urban heat island). Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan suhu di Jakarta seringkali 2–4°C lebih panas dibandingkan daerah sekitarnya. Pedagang kaki lima, buruh bangunan, dan penghuni permukiman padat di bantaran kali adalah kelompok yang paling terpapar risiko ini, tanpa akses ke pendingin ruangan atau tempat berteduh yang memadai.
Abhishek, seorang pemuda di Sundar Nagri, Delhi timur, membuat "buku panas" (Garmi khata) untuk mencatat dampak suhu ekstrem terhadap keluarganya. Di rumah dua kamar tanpa jendela, suhu dalam ruangan mencapai 40°C—hampir sama dengan di luar. "Di luar setidaknya ada angin, di dalam seperti berdiri di samping oven," tulisnya. Ia memotong rambut pendek, berkali-kali membasuh muka, dan melepas kaus, namun tetap sulit tidur. Kisah Abhishek mencerminkan realitas jutaan warga kota di negara berkembang yang terperangkap dalam siklus panas tanpa akhir.
Pertanyaan yang tersisa: apakah pemerintah kota di Indonesia siap menghadapi ancaman gelombang panas yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim? Tanpa langkah konkret seperti penambahan ruang hijau, aturan jam kerja yang fleksibel, dan penyediaan tempat berteduh di area publik, warga miskin perkotaan akan terus membayar harga termahal dari krisis iklim.


