Rochi Putiray Kritik Pembinaan Striker Lokal: Sananta Contoh Nyata
Baca dalam 60 detik
- Legenda Timnas Indonesia Rochi Putiray menilai minimnya striker lokal di skuad Garuda bukan karena pemain asing, melainkan pembinaan usia muda yang lemah.
- Ia menyoroti Ramadhan Sananta sebagai striker potensial yang kerap kalah duel satu lawan satu, menunjukkan kegagalan akademi dalam mengasah fundamental.
- Rochi juga mengungkap cerita di balik dua gol bersejarahnya ke gawang AC Milan pada 2004, yang ia anggap sebagai keberuntungan di laga eksibisi.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4985719/original/080407800_1730289959-000_HKG2004072157398.jpg)
Legenda sepak bola Indonesia, Rochi Putiray, melontarkan kritik tajam terhadap sistem pembinaan pemain lokal yang dinilainya gagal menghasilkan striker mumpuni untuk Timnas Indonesia. Menurut mantan penyerang Persija Jakarta dan Timnas era 1990-an itu, persoalan utama bukanlah maraknya pemain naturalisasi, melainkan lemahnya kualitas pelatihan di akademi dan sekolah sepak bola (SSB).
Dalam wawancara eksklusif dengan Bola.com, pria berusia 55 tahun yang kini masih bugar itu mengaku jarang mengikuti kompetisi domestik karena kecewa dengan banyaknya kontroversi yang tak kunjung usai. “Dari Liga 1 sampai Liga 4, masih banyak hal kontroversial. Semua dalam proses perbaikan, tapi belum banyak berubah,” ujarnya. Ia menekankan bahwa sepak bola seharusnya memberi nilai edukasi bagi penonton, namun kualitas pertandingan di Indonesia belum mencerminkan hal tersebut.
Rochi secara spesifik menyoroti kasus Ramadhan Sananta, striker muda yang dianggapnya memiliki naluri posisi dan pergerakan bagus, namun kerap gagal dalam duel satu lawan satu. “Dia selalu dapat bola one on one dengan bek lawan, tapi 9 dari 10 kali gagal melewati. Itu bukan salah pemain, mungkin pelatih tidak memberi tahu atau dia sendiri tidak mau menonton video ulang,” kata Rochi. Ia membandingkan dengan striker naturalisasi Ole Romeny yang dinilai lebih bekerja keras untuk mendapatkan ruang dan peluang.
Menurut Rochi, kegagalan Sananta dan striker lokal lainnya merupakan cermin dari rendahnya standar pembinaan di Indonesia. “Yang harus introspeksi bukan federasi, melainkan pelatih lokal, terutama di akademi dan SSB. Seberapa mampu mereka menciptakan pemain setara naturalisasi? Itu tantangannya,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa teknik dasar seperti duel dan finishing seharusnya sudah diasah sejak usia dini, bukan ketika pemain sudah masuk tim senior.
Di sisi lain, Rochi juga berbagi cerita tentang dua gol bersejarahnya ke gawang AC Milan. Ia mengaku sebelum laga tersebut, ia sempat bermain melawan Sampdoria di Jakarta bersama Kurniawan Dwi Yulianto. “Bedanya di sana lebih rileks. Mereka tidak mencari kemenangan, karena itu hanya ajang promosi,” kenangnya. Rochi hanya bermain di babak kedua karena prioritas diberikan kepada pemain asing. “Manajemen tidak menuntut menang, jadi saya bermain lepas dan beruntung bisa bikin dua gol,” tutupnya.
Pernyataan Rochi ini menjadi pengingat bahwa sepak bola Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam hal pembinaan usia muda. Jika akademi dan SSB tidak segera berbenah, ketergantungan pada pemain naturalisasi akan terus berlanjut, dan striker lokal seperti Sananta hanya akan menjadi pelengkap tanpa kontribusi maksimal. Pertanyaannya, mampukah para pelatih lokal menjawab tantangan yang dilontarkan legenda seperti Rochi Putiray?



