Wolves Pecat Rob Edwards Lewat Medsos, Pelatih Tahu dari Rumor Pengganti
Baca dalam 60 detik
- Wolves memecat Rob Edwards setelah tujuh bulan, dengan pelatih mengetahui kabar tersebut dari laporan media sosial tentang calon pengganti.
- Keputusan ini mengejutkan karena klub sebelumnya menyatakan dukungan, dan Edwards berperan kunci dalam mendatangkan pemain anyar untuk Championship.
- Cesar Peixoto, yang sukses bersama Gil Vicente di Portugal, diyakini menjadi pengganti, meski belum pernah melatih di luar negeri.

Wolverhampton Wanderers secara mengejutkan memecat Rob Edwards dari kursi pelatih kepala setelah hanya tujuh bulan menjabat, dengan sang manajer pertama kali mengetahui potensi pemecatannya dari laporan media sosial yang menyebutkan nama pengganti. Keputusan ini diumumkan klub pada Kamis pagi waktu setempat, sehari setelah Edwards dan stafnya melihat rumor bahwa Cesar Peixoto akan mengambil alih posisinya.
Edwards, 43 tahun, diangkat pada November lalu untuk menggantikan Vitor Pereira, namun hanya mampu membawa Wolves meraih lima kemenangan dari 30 pertandingan di semua kompetisi, termasuk 16 kekalahan. Klub finis di dasar klasemen Premier League dan harus terdegradasi ke Championship. Meskipun demikian, manajemen klub sebelumnya berulang kali menyatakan dukungan penuh kepada Edwards, bahkan saat persiapan untuk musim depan di divisi kedua sudah dimulai.
Keputusan ini dianggap kontradiktif karena Edwards baru saja berhasil meyakinkan beberapa pemain kunci untuk bertahan, termasuk Andre yang menandatangani kontrak baru, serta mendatangkan Kieran Trippier dan Raul Jimenez dengan status bebas transfer. Menurut sumber internal, ketiga pemain tersebut memutuskan bertahan atau bergabung karena faktor Edwards. Technical director Matt Jackson, yang bulan lalu menegaskan keselarasan klub dengan Edwards, kini justru menjadi eksekutor pemecatan.
Yang menarik, pemecatan ini terjadi tanpa adanya insiden pemicu tertentu. Edwards sebelumnya secara blak-blakan menyebut kondisi klub "berantakan" dalam sesi tanya jawab dengan penggemar, namun ia juga menegaskan tanggung jawabnya sebagai pelatih. "Kami adalah tim terburuk di liga. Itu intinya," ujar Edwards saat itu. Meskipun demikian, ia mengaku sudah tahu risiko saat menerima tawaran pada November lalu.
Laporan BBC Sport mengungkapkan bahwa keputusan ini diambil di atas level Jackson, melibatkan chairman eksekutif Nathan Shi dan pemilik Fosun yang tidak lagi yakin dengan Edwards. Padahal, klub sudah menyusun strategi untuk Championship sejak Januari, termasuk perekrutan pemain yang melibatkan Edwards. Kini, cetak biru tersebut harus dirombak total.
Pengganti yang diisukan, Cesar Peixoto, merupakan klien dari agensi Jorge Mendes, Gestifute, yang memiliki hubungan erat dengan pemilik Wolves. Peixoto sukses membawa Gil Vicente finis di posisi keenam Primeira Liga musim lalu, namun ia belum pernah melatih di luar Portugal. Langkah ini dianggap sebagai taruhan besar bagi Wolves yang membutuhkan kepastian promosi cepat.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran tentang pentingnya keselarasan visi antara manajemen dan pelatih, terutama saat klub berada dalam tekanan degradasi. Keputusan mendadak seperti ini kerap terjadi di klub-klub Eropa, namun jarang diikuti dengan pergantian yang berisiko tinggi. Pertanyaan besarnya: akankah Peixoto mampu beradaptasi dengan kerasnya Championship, atau justru memperpanjang masa sulit Wolves?



