Dean Huijsen Manfaatkan Liburan di Bali untuk Latihan di Markas Bali United
Baca dalam 60 detik
- Bek Real Madrid Dean Huijsen menjalani latihan fisik di Bali United Training Center saat liburan di Bali.
- Ia ditemani pemain keturunan Indonesia Kaya Simons, mengikuti jejak legenda Madrid Marcelo.
- Huijsen absen dari skuad Spanyol di Piala Dunia 2026, kalah bersaing dengan Pau Cubarsí dan Eric García.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5401586/original/070760600_1762217869-AP25295500999307.jpg)
Bek Real Madrid, Dean Huijsen, memanfaatkan momen liburannya di Bali untuk tetap menjaga kebugaran dengan berlatih di Bali United Training Center, Rabu (10/6/2026). Pemain berusia 21 tahun yang tidak masuk dalam skuad Timnas Spanyol untuk Piala Dunia 2026 ini memilih fokus pada latihan fisik di tengah berbagai aktivitas wisata seperti foto bersama penggemar di Canggu, bermain ATV, dan naik helikopter menikmati panorama Pulau Dewata.
Huijsen tidak sendirian dalam sesi latihan tersebut. Ia ditemani oleh Kaya Simons, pemain keturunan Indonesia yang memperkuat klub Eerste Divisie Belanda, De Graafschap. Momen ini diabadikan oleh fotografer resmi Bali United, Ewin Setyo, dan dibagikan melalui akun Instagram pribadinya. Kehadiran Huijsen di pusat latihan milik klub Liga 1 itu menjadi sorotan, mengingat ia mengikuti jejak legenda Real Madrid, Marcelo, yang setahun sebelumnya juga menyambangi tempat yang sama, meski saat itu Marcelo hanya bermain bola dan melatih anak-anak akademi.
Media Officer Bali United, Alexander Maha Putra Oemanas, membenarkan bahwa Huijsen memang tengah menjalani latihan mandiri di fasilitas tersebut. “Kebetulan sedang berlibur di Bali dan sekarang fokus menjaga kondisi fisiknya,” ujarnya. Dalam beberapa hari ke depan, Huijsen dan Simons dijadwalkan masih akan melanjutkan sesi latihan mandiri di Bali United Training Center. Beberapa pemain Bali United Youth, termasuk seorang penjaga gawang, juga turut serta dalam latihan tersebut.
Keputusan Huijsen untuk tetap berlatih di tengah liburan menunjukkan profesionalisme tinggi. Namun, di balik itu, tersirat kekecewaan karena ia harus menepi dari skuad La Roja untuk turnamen akbar. Pelatih Luis De la Fuente lebih memilih dua bek muda lainnya, Pau Cubarsí dan Eric García, yang dinilai lebih cocok dengan skema permainan Spanyol. Huijsen, yang sebelumnya membela Timnas Belanda di kelompok umur, sempat menjadi andalan di lini belakang Spanyol senior, tetapi persaingan ketat membuatnya tersisih.
Bagi sepak bola Indonesia, kehadiran pemain sekelas Huijsen di pusat latihan klub lokal menjadi angin segar. Selain meningkatkan profil Bali United di mata internasional, momen ini juga bisa menjadi inspirasi bagi pemain muda Tanah Air. Kaya Simons, yang merupakan pemain keturunan Indonesia, turut menjadi jembatan antara talenta diaspora dan pengembangan sepak bola nasional. Pertanyaannya, akankah kehadiran pemain-pemain Eropa seperti Huijsen membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk menarik perhatian dunia? Atau justru menjadi pengingat bahwa regenerasi pemain lokal masih perlu ditingkatkan?



