Pernyataan Ceferin Soal Laga Piala Dunia Tak Menarik Picu Kemarahan 13 Negara
Baca dalam 60 detik
- Presiden UEFA Aleksander Ceferin menyebut pertandingan Piala Dunia 2026 yang diperluas menjadi 48 tim akan banyak yang tidak menarik, memicu protes dari 13 federasi sepak bola negara peserta.
- Dalam pernyataan bersama, negara-negara seperti Cape Verde, Uzbekistan, dan Haiti menegaskan bahwa setiap laga kualifikasi dan putaran final adalah mimpi yang terwujud bagi generasi pendukung mereka.
- Kontroversi ini menyoroti ketegangan antara elit sepak bola Eropa dan negara berkembang yang melihat ekspansi Piala Dunia sebagai peluang emas untuk bersaing di panggung global.

Presiden UEFA Aleksander Ceferin menuai kecaman keras setelah pernyataannya yang menyebut banyak pertandingan Piala Dunia 2026 mendatang akan menjadi "sama sekali tidak menarik" akibat perluasan jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim. Kritik datang dari 13 federasi sepak bola negara yang berhasil lolos ke turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada tersebut.
Dalam sebuah konferensi di Ljubljana, Slovenia, Ceferin dikabarkan mengatakan bahwa meskipun partisipasi negara kecil merupakan hal besar, namun peningkatan jumlah tim justru menghasilkan banyak laga yang kurang berkualitas. Pernyataan itu sontak memicu reaksi balik dari sejumlah federasi yang merasa diremehkan.
Pada Minggu (14/4), 13 asosiasi sepak bolaโCape Verde, Curacao, Uzbekistan, DR Kongo, Haiti, Aljazair, Tunisia, Maroko, Mesir, Ghana, Senegal, Pantai Gading, dan Afrika Selatanโmerilis pernyataan bersama yang mengekspresikan "kekecewaan mendalam" atas komentar Ceferin. Mereka menegaskan bahwa tidak ada yang namanya pertandingan Piala Dunia yang tidak penting bagi negara mereka.
"Bagi Cape Verde, Curacao, dan Uzbekistan, lolos ke Piala Dunia adalah pencapaian bersejarah dan mimpi yang terwujud bagi generasi sebelumnya," demikian bunyi pernyataan tersebut. "Bagi negara seperti Kongo dan Haiti, kembali ke panggung terbesar sepak bola setelah absen panjang memiliki makna khusus bagi jutaan pendukung yang telah menunggu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun."
Pernyataan bersama itu menekankan bahwa di balik setiap kualifikasi terdapat kerja keras dan investasi bertahun-tahun. "Di balik setiap tim nasional berdiri seluruh komunitas dan jutaan orang yang melihat sepak bola sebagai sumber kebanggaan, harapan, dan persatuan. Sepak bola bukan milik sekelompok negara tertentu. Kekuatannya berasal dari universalitasnya," tulis mereka.
Ekspansi Piala Dunia menjadi 48 tim merupakan keputusan FIFA yang kontroversial. Di satu sisi, langkah ini membuka peluang bagi negara-negara yang sebelumnya sulit menembus putaran final. Namun, kritik seperti yang dilontarkan Ceferin menyoroti kekhawatiran akan menurunnya kualitas pertandingan dan ketimpangan kompetitif antara tim unggulan dan pendatang baru.
Bagi Indonesia, meski belum lolos ke Piala Dunia, perdebatan ini relevan. Dengan format baru, peluang tim Asia Tenggara untuk tampil di panggung dunia semakin terbuka. Namun, tanpa persiapan infrastruktur dan pembinaan jangka panjang, ekspansi semata tidak akan menjamin peningkatan kualitas sepak bola nasional. Pertanyaan yang muncul: apakah perluasan peserta benar-benar mendorong perkembangan sepak bola global, atau justru memperlebar kesenjangan antara negara kaya dan miskin?
Hingga berita ini diturunkan, UEFA belum memberikan tanggapan resmi atas kritik yang dilayangkan oleh 13 federasi tersebut. Sementara itu, Ceferin sendiri belum meralat atau mengklarifikasi pernyataannya. Yang jelas, kontroversi ini kembali membuka diskusi tentang arah masa depan turnamen paling bergengsi di dunia.



