Dari Lapangan Kerikil Clydebank ke Panggung Dunia: Kisah John McGinn, Gelandang Serbabisa yang Tak Terhentikan
Baca dalam 60 detik
- John McGinn, yang nyaris tewas akibat cedera parah di awal karier, kini menjadi kapten Aston Villa peraih trofi Europa League dan akan tampil di Piala Dunia bersama Skotlandia setelah 28 tahun absen.
- Perjalanannya dari klub kecil St Mirren hingga ke puncak sepak bola Inggris menunjukkan kombinasi kerja keras, teknik unik, dan kepribadian rendah hati yang membuatnya dicintai rekan setim dan pelatih.
- Dengan 86 caps dan 20 gol untuk Skotlandia, McGinn berpotensi memecahkan rekor penampilan dan gol nasional, namun persaingan dengan kapten Andy Robertson menjadi tantangan tersendiri.

John McGinn, gelandang serbabisa Aston Villa, akan menjadi salah satu pemain kunci Skotlandia saat mereka tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, akhir pekan ini. Namun, perjalanannya menuju panggung terbesar sepak bola dunia nyaris berakhir tragis akibat cedera mengerikan di lapangan latihan.
Pemain berusia 31 tahun yang akrab disapa "Meatball" ini telah mengukir prestasi gemilang: membawa Aston Villa meraih trofi pertama dalam 30 tahun, menjadi bagian dari keberhasilan Hibernian memutus puasa gelar Piala Skotlandia selama 114 tahun, dan kini bersiap membela negaranya di turnamen empat tahunan. Namun, di balik kesuksesan itu, ada momen ketika kariernya hampir sirna karena sebuah insiden konyol.
Pada 2015, saat masih membela St Mirren, McGinn mengalami luka tusuk di paha akibat ulah rekan setimnya, Steven Thompson, yang menggunakan tiang runcing sebagai lelucon. Jika tusukan itu hanya satu milimeter lebih dalam, McGinn bisa mengalami pendarahan hebat dan meninggal dalam hitungan menit. "Saya akan kehabisan darah dalam satu menit," kenangnya kemudian. Insiden itu justru menjadi titik balik yang memperkuat tekadnya.
McGinn tumbuh di Clydebank, kawasan kelas pekerja di pinggiran Glasgow, dalam keluarga yang sangat mencintai sepak bola. Kakeknya, Jack, pernah menjadi presiden Asosiasi Sepak Bola Skotlandia dan ketua Celtic. Ibunya, Mary, bahkan menjadi guru sekaligus pelatih tim sekolahnya. Bersama dua kakaknya, Paul dan Stephen, McGinn kecil sering bermain di lapangan kerikil yang dibuatkan ibunya setelah mengajukan permohonan ke dewan kota setempat. "Tanpa kegigihan ibu, mungkin tidak akan ada karier sepak bola bagi kami," ujarnya.
Karier McGinn mulai menanjak saat bergabung dengan Hibernian di kasta kedua Skotlandia. Di bawah asuhan Neil Lennon, ia berkembang menjadi gelandang serba bisa yang sulit dihentikan. Lennon, yang dikenal keras, pernah memarahi McGinn habis-habisan setelah kekalahan dari St Mirren yang diperkuat kakaknya, Stephen. "Kau bahkan bukan pemain terbaik di rumahmu sendiri," sindir Lennon. McGinn juga pernah didenda karena memilih pulang bersama keluarga daripada naik bus tim. Namun, semua itu justru membentuk karakternya yang pantang menyerah.
Mantan rekan setimnya di Hibernian, Scott Allan, mengingat keistimewaan McGinn. "Dia tidak pernah kehilangan bola, bahkan saat pemain lawan bergelantungan di pundaknya. Yang paling mengejutkan adalah betapa bagusnya tekniknya β itu jarang disebut karena orang lebih fokus pada semangat juangnya," kata Allan. Ia juga menyoroti cara McGinn menggunakan bokongnya untuk melindungi bola, yang kini menjadi ciri khasnya.
Kepindahan ke Aston Villa pada 2018 menjadi lompatan besar. Debutnya diwarnai tekel keras yang langsung memikat hati suporter, dan gol pertamanya β sebuah tendangan spektakuler ke gawang Sheffield Wednesday β membuat namanya dikenang. Puncaknya, ia mencetak gol kemenangan di final play-off Championship melawan Derby County yang membawa Villa kembali ke Premier League. Tujuh tahun kemudian, ia mengangkat trofi Liga Europa sebagai kapten.
Di luar lapangan, McGinn dikenal sebagai pribadi rendah hati dan humoris. Julukan "Meatball" ia dapatkan karena bentuk kepalanya yang bulat dengan rambut cepak saat masih di St Mirren. Ia juga tidak segan mengkritik biaya tiket dan perjalanan Piala Dunia dalam sebuah dokumenter BBC. "Dia orang yang sama sekarang seperti dulu. Itu adalah pujian besar bagi dirinya dan orang tuanya," ujar Allan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah McGinn mengingatkan bahwa kerja keras dan kerendahan hati bisa membawa seseorang dari lapangan kampung ke panggung dunia. Di tengah dominasi pemain mahal, perjalanan McGinn menjadi bukti bahwa bakat dan karakter tetap menjadi faktor penentu. Pertanyaannya, mampukah ia membawa Skotlandia melaju jauh di Piala Dunia, atau justru rekor demi rekor yang akan ia pecahkan sepanjang kariernya?



