AS Kembali Gempur Iran, Selat Hormuz Ditutup: Perang Dagang Minyak Mengancam
Baca dalam 60 detik
- Militer AS melancarkan serangan baru ke Iran setelah negosiasi nuklir macet, memicu penutupan Selat Hormuz oleh Teheran.
- Penutupan jalur minyak vital ini berpotensi mengerek harga energi global dan menguji ketahanan pasokan Indonesia.
- Gencatan senjata rapuh sejak April runtuh, meningkatkan risiko konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Washington, DC β Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran, Rabu (11/6), setelah Presiden Donald Trump kehilangan kesabaran atas kebuntuan perundingan dengan Teheran. Langkah ini langsung dibalas dengan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi pasokan minyak dunia.
Komando Pusat AS menyatakan bahwa serangan tambahan yang disebut sebagai tindakan bela diri itu dilancarkan atas perintah Trump. Dalam pernyataannya, militer AS menuding Iran menunjukkan agresi yang tak beralasan dan terus-menerus. Serangan ini menyasar beberapa target di wilayah Iran, meski rincian lokasi dan sasaran tidak diungkapkan.
Penutupan Selat Hormuz oleh militer Iran menjadi eskalasi paling dramatis. Selat yang memisahkan Iran dan Oman ini merupakan jalur transit bagi sekitar seperlima konsumsi minyak global. Sejak perang bilateral pecah pada akhir Februari, volume pengiriman minyak melalui selat itu sudah menurun drastis. Penutupan total bisa memicu lonjakan harga minyak yang mengguncang ekonomi dunia, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah.
Trump, dalam pernyataan di Gedung Putih, menegaskan bahwa Iran sebenarnya sudah setuju untuk tidak memiliki senjata nuklir, tetapi sengaja menunda penandatanganan. βYang harus mereka lakukan hanyalah mulai menandatangani kertas. Perjanjiannya sudah sepenuhnya dirundingkan. Tapi mereka mengulur-ulur,β ujarnya. Trump memberi tenggat beberapa hari lagi, namun nada ancamannya meninggi.
Bagi Indonesia, konflik ini bukan sekadar berita luar negeri. Kenaikan harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz akan langsung membebani anggaran subsidi energi dan mendorong inflasi. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi lonjakan harga BBM dan mencari alternatif pasokan dari negara lain, seperti Angola atau Amerika Latin. Namun, dalam jangka pendek, tidak ada jalur yang bisa menggantikan volume transit Selat Hormuz.
Ketegangan terbaru dipicu oleh jatuhnya sebuah helikopter serang AS di perairan dekat Selat Hormuz sehari sebelumnya. Insiden itu memicu serangan balasan AS terhadap instalasi militer Iran, yang kemudian berujung pada penutupan selat. Siklus serangan dan balasan ini mengikis harapan akan stabilitas kawasan yang sempat muncul setelah gencatan senjata awal April.
Para analis memperkirakan bahwa tanpa terobosan diplomatik, konflik ini akan terus berlanjut dan berpotensi menarik aktor regional lain. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang selama ini menjadi sekutu AS, bisa terseret jika jalur pelayaran mereka terganggu. Sementara itu, Iran tampaknya memilih strategi bertahan dengan mengancam jalur minyak, senjata paling efektif yang dimilikinya.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah tekanan ekonomi dan militer memaksa salah satu pihak kembali ke meja perundingan? Atau justru sebaliknya, eskalasi ini akan menjadi awal dari konflik terbuka yang lebih luas? Bagi Indonesia, yang tengah berjuang memulihkan ekonomi pasca-pandemi, jawaban atas pertanyaan itu akan sangat menentukan.



