Naira Tertekan di Tengah Penurunan Volume Transaksi Valas Antarbank
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar naira melemah terhadap dolar AS di pasar resmi seiring volume transaksi antarbank yang menyusut.
- Tekanan likuiditas valas dan ketegangan geopolitik AS-Iran turut mempengaruhi pergerakan mata uang Nigeria.
- Cadangan devisa Nigeria masih bertahan di atas 50 miliar dolar, didukung aliran masuk dari sektor hidrokarbon.

Naira Nigeria kembali terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat di pasar valuta asing resmi, menyusul penurunan volume transaksi antarbank yang menandakan adanya tekanan likuiditas. Berdasarkan data harian Bank Sentral Nigeria (CBN), kurs spot naira ditutup pada level N1.363,8250 per dolar AS, melemah tipis dibandingkan posisi sebelumnya N1.362,0549. Rentang transaksi yang bergerak antara N1.362 hingga N1.365,5000 per dolar mengindikasikan pasar tengah menghadapi kekurangan pasokan valas jangka pendek.
Volume transaksi valas antarbank tercatat hanya mencapai 70,420 juta dolar AS dari 84 kesepakatan, turun dari 75,374 juta dolar AS pada hari sebelumnya. Penurunan ini terjadi di tengah upaya CBN menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar. Di pasar paralel, naira diperdagangkan pada level N1.375 per dolar, mencerminkan aktivitas yang lebih tenang di segmen informal meskipun ada minat beli yang moderat.
Selain terhadap dolar, naira juga melemah terhadap mata uang utama lainnya. Kurs naira terhadap euro ditutup pada N1.572,3227, terhadap poundsterling Inggris di N1.820,5842, dan terhadap yen Jepang di N363,1563. Pelemahan ini terjadi di tengah volatilitas harga minyak mentah global yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan AS-Iran yang kembali memanas setelah serangan balasan selama dua hari berturut-turut turut mempengaruhi sentimen pasar. Presiden AS Donald Trump mengancam akan melanjutkan serangan dan menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran mengenai program nuklir berjalan terlalu lambat. Trump bahkan menyebut kemungkinan AS akan “mengambil kendali penuh” atas minyak dan gas Iran di masa mendatang. Sebagai respons, Iran mengklaim telah meluncurkan dua gelombang serangan terhadap pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain, meskipun klaim tersebut belum terverifikasi secara independen.
Di sisi fundamental, cadangan devisa Nigeria justru menunjukkan tren positif. Hingga Rabu lalu, cadangan tercatat sebesar 50,542 miliar dolar AS, didukung oleh aliran masuk devisa yang berkelanjutan. Analis Broadstreet memperkirakan posisi cadangan bisa mencapai 51 miliar dolar AS pada 2026, terutama ditopang oleh pendapatan dari sektor hidrokarbon. Namun, ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga minyak tetap menjadi risiko yang membayangi stabilitas naira ke depan.
Bagi Indonesia, dinamika nilai tukar naira dan volatilitas pasar minyak menjadi pengingat akan kerentanan negara-negara emerging market terhadap guncangan eksternal. Meskipun rupiah relatif lebih stabil, tekanan dari perang harga minyak dan ketegangan geopolitik tetap perlu diwaspadai, terutama mengingat Indonesia juga bergantung pada impor minyak. Pertanyaan yang muncul: akankah CBN mampu menjaga stabilitas naira di tengah tekanan likuiditas dan risiko global yang meningkat?



