Skotlandia Bawa Dendam ke Piala Dunia: Ryan Christie Ingin Hapus Kenangan Pahit Euro 2024
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia akan tampil di Piala Dunia 2026 setelah 28 tahun absen, dengan Ryan Christie sebagai motor semangat untuk lolos dari fase grup.
- Kekalahan dramatis 1-0 dari Hungaria di Euro 2024 masih membekas, memicu tekad kuat untuk menciptakan sejarah baru.
- Jadwal Grup C yang diawali melawan Haiti memberi peluang awal yang lebih baik dibandingkan menghadapi Brasil atau Jerman di laga pertama.

Dua tahun setelah mimpi buruk di Euro 2024, Skotlandia kembali ke panggung besar Piala Dunia dengan beban sejarah dan tekad yang membara. Ryan Christie, gelandang Bournemouth yang menjadi pemain terakhir menyentuh bola pada turnamen sebelumnya, mengaku masih dihantui kekalahan 1-0 dari Hungaria yang dipastikan lewat gol menit ke-100. Namun, dari luka itu lahir semangat baru: "Kami sangat ingin menjadi tim Skotlandia pertama yang lolos dari fase grup," ujarnya dalam wawancara dengan The Wayne Rooney Show.
Skotlandia akan memulai petualangan mereka di Piala Dunia 2026 melawan Haiti, tiga hari lagi. Christie mengingat betul pengalaman pahit saat menghadapi tuan rumah Jerman di Euro 2024, yang berakhir dengan kekalahan telak 5-1. "Itu pengalaman yang merendahkan," katanya. Namun, jadwal Grup C yang menempatkan Haiti sebagai lawan pertama dianggap sebagai keuntungan. "Anda pasti lebih memilih menghadapi mereka daripada Brasil di laga awal. Saya masih bermimpi buruk tentang pertandingan melawan Jerman," tambahnya.
Optimisme ini tidak hanya datang dari Christie. Seluruh skuad dan pelatih Steve Clarke, yang disebut Christie sebagai "salah satu manajer terhebat Skotlandia", telah membangun budaya tim yang solid. Christie menceritakan perubahan drastis sejak Clarke mengambil alih: "Dulu saya menghitung hari untuk pulang, sekarang kami malah berkumpul lebih awal hanya untuk menghabiskan waktu bersama." Kepercayaan yang diberikan Clarke kepada pemain, termasuk kebebasan di hari libur, menjadi kunci kekompakan tim.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan Skotlandia ini menarik untuk diikuti. Meski tidak ada pemain Asia di skuad mereka, semangat underdog dan perjuangan melawan sejarah panjang kegagalan bisa menjadi inspirasi. Apalagi, Piala Dunia 2026 akan diikuti 48 tim, termasuk kemungkinan Indonesia jika lolos kualifikasi. Kisah Skotlandia menunjukkan bahwa transformasi budaya tim bisa mengubah nasib.
Christie menegaskan bahwa tidak ada lawan yang mudah di Piala Dunia. "Setiap tim layak berada di sini," katanya. Namun, ia percaya awal yang baik melawan Haiti bisa menjadi fondasi untuk langkah bersejarah. Dengan dukungan penuh dari Tartan Army, Skotlandia siap membayar lunas utang masa lalu.
Pertanyaan besarnya: akankah Skotlandia mampu memutus rantai kegagalan dan menorehkan tinta emas di Piala Dunia 2026? Atau justru Haiti yang akan menjadi batu sandungan pertama? Jawabannya akan mulai terungkap dalam beberapa hari ke depan.


