Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Kembali Terbang
Baca dalam 60 detik
- Serangan militer beruntun antara AS dan Iran di Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah Brent ke level $93,33 per barel.
- Ancaman Trump untuk memperberat serangan jika Iran tak segera berdamai menambah ketidakpastian pasokan global.
- Penurunan stok minyak AS yang lebih besar dari perkiraan memperkuat tekanan harga di tengah eskalasi geopolitik.

Harga minyak mentah global kembali merangkak naik setelah militer Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan untuk hari kedua berturut-turut, memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dari jalur strategis Selat Hormuz. Brent crude tercatat di level $93,33 per barel, naik tipis 0,27 persen dari penutupan sebelumnya, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,44 persen menjadi $90,40 per barel.
Eskalasi ini terjadi di tengah upaya negosiasi damai yang mandek antara Washington dan Teheran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukannya menyerang sejumlah sasaran militer di Iran sejak Rabu malam hingga Kamis dini hari, dengan dalih tindakan bela diri setelah sebuah helikopter AS ditembak jatuh di Selat Hormuz. Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS dan sekutunya di kawasan Teluk, termasuk melaporkan ledakan di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Presiden AS Donald Trump, dalam wawancara dengan Fox News, mengancam akan melancarkan serangan yang jauh lebih berat jika Iran tidak segera menerima kesepakatan damai. Trump juga menyambut baik kenaikan inflasi yang dipicu oleh melonjaknya harga energi, dan mengklaim bahwa AS secara diam-diam telah memfasilitasi aliran minyak melalui Selat Hormuz sebanyak 100 juta barel. Klaim Iran yang menyebut telah menghentikan seluruh lalu lintas maritim di selat tersebut langsung dibantah oleh CENTCOM.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia berarti tekanan tambahan pada anggaran subsidi energi dan potensi kenaikan harga bahan bakar minyak dalam negeri. Pemerintah selama ini mengandalkan impor minyak mentah yang harganya mengacu pada acuan internasional. Jika tren ini berlanjut, beban APBN untuk subsidi BBM dan listrik bisa membengkak, memicu inflasi impor dan melemahkan daya beli masyarakat.
Di sisi lain, konflik yang melibatkan Selat Hormuz—jalur transit sekitar seperlima konsumsi minyak global—mengingatkan pada krisis 2019 yang sempat mendorong harga minyak ke level $75 per barel. Saat itu, gangguan pasokan akibat serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi membuat harga melonjak dalam hitungan jam. Kini, dengan stok minyak AS yang justru menurun drastis—7,2 juta barel pekan lalu, jauh di atas perkiraan penurunan 3 juta barel—pasar semakin rentan terhadap kejutan pasokan.
Analis memperkirakan bahwa tanpa adanya gencatan senjata yang kredibel, harga minyak berpotensi menembus $100 per barel dalam waktu dekat. Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah memiliki strategi cadangan untuk mengantisipasi lonjakan harga energi yang berkepanjangan?



