Lewis Hamilton Pertanyakan Strategi Ferrari di GP Hungaria: 'Seharusnya Tidak Pit Stop'
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton kehilangan podium setelah Ferrari memanggilnya pit stop saat virtual safety car, yang kemudian berujung penalti.
- Keputusan kontroversial itu membuat Hamilton tertinggal 50 poin dari pemimpin klasemen Kimi Antonelli.
- Insiden ini menambah rentetan nasib buruk Hamilton dalam tiga balapan terakhir, memicu pertanyaan tentang komunikasi tim.

Langkah strategis yang salah pada momen krusial kembali menghantui Lewis Hamilton. Pebalap Ferrari itu mengkritik keputusan timnya untuk melakukan pit stop di Grand Prix Hungaria, Minggu lalu, yang justru merampas peluangnya finis di podium.
Hamilton, yang memulai balapan dari posisi ketiga setelah sebelumnya terkena penalti di kualifikasi, tengah berada di posisi kedua ketika McLaren milik Oscar Piastri berhenti akibat masalah girboks. Momen itu memicu periode virtual safety car, dan Ferrari memanggilnya masuk pit. Namun, Hamilton menilai ban mobilnya masih prima dan ia seharusnya tetap di lintasan. โSaya yakin kami tak perlu berhenti. Panggilan datang tepat di pintu masuk pit, saya tak punya waktu untuk berdebat,โ ujarnya seusai balapan, seperti dikutip media Inggris.
Alih-alih mempertahankan posisi, Hamilton malah terkena penalti lima detik akibat melebihi batas kecepatan di pit lane. Hasil akhirnya, ia finis kelima di belakang rekan setimnya, Charles Leclerc. Sementara itu, pesaing utamanya, Max Verstappen (Red Bull), finis kedua, dan pemimpin klasemen Kimi Antonelli (Mercedes) merebut posisi ketiga. Keduanya memilih tidak pit stop saat VSC.
Keputusan Ferrari ini sontak menuai sorotan. Bos tim Fred Vasseur membela strategi tersebut dengan alasan tidak adil meminta Leclerc memperbesar jarak demi mengamankan posisi Hamilton. Namun, bagi Hamilton, ini adalah pukulan telak dalam rangkaian balapan yang penuh kesialan. โTiga balapan terakhir cukup buruk dari sisi saya. Di Belgia, bahkan pebalap yang menyebabkan tabrakan mengatakan itu insiden balap, tapi saya tetap dihukum,โ keluhnya.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, drama strategi ini menjadi pengingat betapa pentingnya komunikasi yang jernih antara pembalap dan tim. Di era yang semakin kompetitif, setiap desisi bisa jadi pembeda antara kemenangan dan kekecewaan. Apalagi, dengan hadirnya pembalap muda seperti Antonelli yang tampil konsisten, tekanan pada Hamilton dan Ferrari semakin besar. Publik Indonesia, yang dikenal fanatik terhadap balap, kerap menjadikan momen seperti ini sebagai bahan diskusi di media sosial, bahkan memengaruhi persepsi terhadap keandalan tim papan atas.
Hamilton, peraih tujuh gelar juara dunia, mengaku akan berusaha keras bangkit dan tidak memberi celah bagi steward untuk menjatuhkan hukuman. โSaya harus pastikan tidak memberi mereka alasan,โ tegasnya. Namun, dengan performa yang tak kunjung stabil, pertanyaan besarnya: apakah Ferrari mampu menyediakan strategi yang mendukung ambisi Hamilton mengejar gelar kedelapan? Atau akankah rentetan nasib buruk ini terus berlanjut? Sisa musim akan menjadi jawabannya.



