Dari Piala Dunia 1994 hingga Messi: Bagaimana Sepak Bola Akhirnya Memikat Hati Amerika
Baca dalam 60 detik
- Piala Dunia 1994 di AS memecahkan rekor kehadiran penonton, menjadi titik awal kebangkitan sepak bola di negeri Paman Sam.
- MLS yang lahir sebagai syarat FIFA kini menjelma liga bergengsi dengan bintang global seperti Messi dan Suárez.
- Menjelang Piala Dunia 2026, popularitas sepak bola di AS diprediksi terus meningkat, namun tantangan model bisnis masih ada.

Ketika Roberto Baggio gagal mengeksekusi penalti di final Piala Dunia 1994 di Rose Bowl, Pasadena, lebih dari 94.000 pasang mata menyaksikan duka Italia dan euforia Brasil. Momen itu bukan sekadar sejarah sepak bola, melainkan awal dari transformasi besar: bagaimana Amerika Serikat akhirnya jatuh cinta pada olahraga yang sebelumnya hanya menjadi tontonan pinggiran.
Tiga dekade berselang, ketika Piala Dunia 2026 kembali ke Amerika Utara dengan laga tersebar di Meksiko, Kanada, dan AS, peta sepak bola di negeri itu telah berubah drastis. John Sloop, profesor komunikasi dari Vanderbilt University yang juga sejarawan sepak bola AS, menilai perjalanan ini tidak lepas dari gebrakan Piala Dunia 1994. "Tiket murah dan melimpah, orang-orang penasaran dan datang berbondong-bondong," ujarnya. Hingga kini, tak ada edisi Piala Dunia yang mampu menyaingi jumlah penonton stadion tertinggi seperti tahun itu.
Namun, cinta Amerika pada sepak bola tidak datang dalam semalam. Sebelum MLS, sudah ada North American Soccer League (NASL) yang lahir pada 1968. Liga ini sempat kesulitan hingga 1975, ketika New York Cosmos menggaet Pelé dari pensiun dengan nilai kontrak dilaporkan mencapai US$4 juta. Kehadiran legenda Brasil itu menarik pemain top lain seperti Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, dan Bobby Moore. Stadion berkapasitas 60.000 kursi kerap penuh. "NASL naik daun dengan cara yang sangat gemerlap, tetapi kemudian tim-timnya bangkrut," kata Sloop. Keruntuhan itu, menurutnya, menjadi pukulan telak bagi penggemar sejati yang mulai mempertanyakan model bisnis seperti apa yang bisa bertahan di AS.
Kegagalan NASL menjadi pelajaran berharga. Ketika FIFA memberikan hak tuan rumah Piala Dunia 1994, salah satu syaratnya adalah AS harus memiliki liga profesional sendiri. Maka lahirlah Major League Soccer (MLS) pada 1996. Kini, MLS menjelma sebagai liga yang diperkuat bintang-bintang kelas dunia—dari Lionel Messi hingga Luis Suárez. Tak hanya itu, kesuksesan tim nasional putri AS dan semakin mudahnya akses siaran televisi turut mengubah pandangan masyarakat terhadap sepak bola. "Orang Amerika kini tidak hanya menonton, tetapi juga mengerti dan mencintai permainan ini," tambah Sloop.
Bagi Indonesia, perjalanan AS ini menawarkan refleksi menarik. Negeri dengan budaya olahraga yang didominasi bisbol, basket, dan sepak bola Amerika, kini mampu membangun ekosistem sepak bola yang kompetitif. MLS berhasil menarik talenta global tanpa harus mengorbankan identitas lokal. Model pengembangan liga yang berkelanjutan, investasi infrastruktur, dan strategi pemasaran yang cerdas menjadi kunci. Sementara itu, Liga 1 Indonesia masih bergulat dengan masalah manajemen, regulasi, dan kualitas kompetisi. Pelajaran dari AS bisa menjadi inspirasi: butuh waktu, konsistensi, dan kemauan politik untuk mengubah sepak bola dari sekadar hiburan menjadi industri yang sehat.
Menjelang Piala Dunia 2026, pertanyaan besarnya adalah: apakah popularitas sepak bola di AS hanya sekadar euforia musiman? Sloop optimistis, asalkan ada investasi berkelanjutan pada pembinaan usia muda dan infrastruktur. "Yang terpenting, jangan sampai sejarah NASL terulang," katanya. Dengan MLS yang kini solid dan basis penggemar yang terus bertambah, masa depan sepak bola Amerika tampak lebih cerah. Namun, satu hal pasti: Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian sesungguhnya apakah cinta ini akan abadi atau hanya musim panas yang indah.

