Piala Dunia 2026 di Mexico City: Antara Euforia dan Jeritan Rakyat
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 133.000 orang hilang di Meksiko, angka yang melampaui kapasitas Stadion Azteca, menjadi sorotan di tengah perhelatan Piala Dunia 2026.
- Guru-guru yang mogok kerja memanfaatkan momen Piala Dunia untuk menyuarakan tuntutan kesejahteraan, menerjemahkan teriakan mereka ke bahasa Inggris demi menjangkau wisatawan.
- Warga Meksiko kebanyakan menganggap tiket pertandingan terlalu mahal, memilih menonton di bar atau zona penggemar, sementara protes sosial menguji citra tuan rumah.

Euforia Piala Dunia 2026 menyelimuti Mexico City, namun di balik gemerlapnya, ribuan keluarga masih meratapi nasib orang-orang tercinta yang hilang tanpa jejak. Di tengah persiapan menjadi tuan rumah untuk ketiga kalinya—sebuah rekor—kota ini menghadapi kontras tajam antara pesta sepak bola dan krisis kemanusiaan yang tak kunjung usai.
Di Monumen Angel of Independence, landmark ikonik ibu kota, ratusan foto orang hilang menempel di dasar tugu. Relawan membagikan selebaran dwibahasa yang menyebutkan bahwa jumlah orang hilang mencapai 133.000 jiwa—lebih dari satu setengah kali kapasitas Stadion Azteca. “Setiap hari, satu bus penuh orang lenyap di negeri ini,” bunyi selebaran itu, seraya menambahkan kalimat menggugah: “Piala telah kembali ke rumah. Kapan orang-orang yang kami cintai kembali?”
Para aktivis melihat Piala Dunia sebagai panggung langka untuk menyuarakan keprihatinan. Liputan media global yang deras diharapkan mampu membawa isu ini ke perhatian dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa sendiri menyebut krisis penghilangan paksa di Meksiko sebagai “tragedi kemanusiaan dengan proporsi yang sangat besar.” Banyak korban diduga direkrut paksa oleh organisasi kriminal atau dibunuh karena melawan.
Tak hanya isu penghilangan paksa, gelombang protes lain juga mewarnai jalan-jalan kota. Ratusan guru yang mogok kerja berkumpul di dekat kantor dua surat kabar nasional, menuntut perbaikan upah, pensiun, dan kondisi kerja. Banyak dari mereka menempuh perjalanan berjam-jam untuk bergabung. Beberapa demonstran bahkan meneriakkan tuntutan dalam bahasa Inggris agar wisatawan asing mengerti. “Kami tidak ingin Piala Dunia, kami hanya ingin gaji yang lebih baik,” teriak mereka. Seorang pengunjuk rasa melalui pengeras suara menyatakan, “Piala Dunia bukan untuk rakyat lokal, melainkan untuk pengusaha kaya yang mampu membeli tiket.”
Mantan pemain timnas Meksiko, Joaquin Beltran, mengakui banyak warganya kecewa terhadap kebijakan pemerintah. Namun, ia berharap Piala Dunia menjadi ruang bagi mereka yang tidak puas untuk menyampaikan aspirasi secara damai. “Saya berharap wajah yang kami tunjukkan kepada dunia adalah wajah yang baik, dan rakyat Meksiko tetap tenang selama Piala Dunia,” ujarnya.
Bagi sebagian besar warga, memiliki tiket pertandingan hanyalah mimpi. Tiket yang mahal membuat mereka lebih memilih menonton di bar atau zona penggemar yang disediakan. Pertanyaan pun mengemuka: siapa sebenarnya yang diuntungkan dari perhelatan akbar ini? Keluarga korban penghilangan paksa, guru yang memperjuangkan haknya, dan warga biasa yang terpinggirkan berharap sorotan dunia tidak hanya tertuju pada stadion, tetapi juga pada realitas pahit yang mereka hadapi. Setelah peluit panjang berbunyi, akankah dunia masih mau mendengar?



