Italia Gagal ke Piala Dunia 2026: Usulan Trump Envoy Jadi Pengingat Kemunduran
Baca dalam 60 detik
- Italia resmi tidak lolos ke Piala Dunia 2026, menambah deretan panjang kegagalan setelah absen di 2022 dan tersingkir dini di Euro 2024.
- Usulan utusan khusus Trump untuk mengganti Iran dengan Italia di Grup G ditolak FIGC, namun memicu diskusi tentang kesiapan tim.
- Tanpa regenerasi pemain bintang, Italia diprediksi akan kesulitan bersaing dengan negara elite seperti Inggris, Prancis, dan Argentina.

Empat kali juara dunia, Italia, harus kembali menyaksikan Piala Dunia dari layar kaca. Kegagalan melaju ke putaran final 2026—baik melalui jalur langsung grup maupun play-off—menjadi pukulan telak bagi Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Lebih memprihatinkan lagi, turnamen yang akan diikuti oleh tim seperti Curacao dan Tanjung Verde musim panas mendatang justru kehilangan salah satu raksasa sepak bola dunia.
Kabar ini semakin hangat setelah Paolo Zampolli, utusan khusus Presiden AS Donald Trump, melontarkan wacana agar Italia menggantikan Iran yang terancam dicoret akibat ketegangan geopolitik. Usulan itu langsung ditepis otoritas Italia, namun memicu pertanyaan besar: seandainya diberi kesempatan, mampukah Gli Azzurri tampil kompetitif?
Secara hipotetis, Italia akan masuk Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru. Dari segi nama besar, hanya Belgia yang menjadi lawan berat. Mesir belum pernah lolos dari fase grup di era Piala Dunia modern, sementara Selandia Baru belum sekalipun memenangi pertandingan di putaran final. Italia—dengan segala kekurangannya—diprediksi masih mampu melaju ke babak gugur sebagai runner-up grup. Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah itu.
Membandingkan Italia dengan calon-calon juara dunia lain menunjukkan jurang yang menganga. Inggris memiliki Harry Kane, Prancis diperkuat Kylian Mbappe, Argentina masih mengandalkan Lionel Messi, dan Spanyol diperkuat Lamine Yamal. Italia, sebaliknya, tidak sedang berada dalam era emas. Pemain terbaik mereka saat ini adalah kiper Gianluigi Donnarumma—yang memang kelas dunia—namun di lini lapangan, tak ada satu pun nama yang masuk jajaran elite global. Federico Chiesa, bintang kemenangan Euro 2020, kini hanya menjadi penghuni bangku cadangan Liverpool yang sedang terpuruk.
Pensiunnya Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci menandai berakhirnya generasi yang mampu bersaing di level tertinggi. Regenerasi yang berjalan lambat membuat Italia tertinggal dari negara-negara yang dulu mereka dominasi. Dalam satu dekade terakhir, prestasi timnas Italia terus menurun: gagal lolos ke Piala Dunia 2018 dan 2022, tersingkir di babak 16 besar Euro 2024, dan kalah telak 0-3 dari Argentina di Finalissima 2022.
Bagi Indonesia, kemunduran Italia menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pembinaan pemain muda yang berkelanjutan. Negeri pizza yang dulu terkenal dengan taktik defensif dan pemain kreatif kini kesulitan melahirkan bintang baru. Sementara negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia terus berkembang, Italia justru stagnan. Jika tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin Italia akan semakin terpinggirkan di panggung sepak bola dunia.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah Italia bangkit kembali, atau justru semakin tenggelam dalam krisis yang berkepanjangan? Dengan absennya mereka di Piala Dunia 2026, dunia sepak bola kehilangan salah satu tim bersejarah, namun yang lebih penting, Italia sendiri harus segera menemukan jalan keluar dari keterpurukan ini.



