Rangnick Buka Suara soal Penolakan Milan: Tak Ada Kejelasan
Baca dalam 60 detik
- Ralf Rangnick memilih memperpanjang kontrak sebagai pelatih Timnas Austria hingga 2027, menolak tawaran menjadi direktur teknis AC Milan.
- Mantan pelatih Manchester United itu mengaku tidak mendapatkan kejelasan dari manajemen Rossoneri, sehingga memutuskan bertahan di Austria.
- Kekosongan posisi di Milan masih berlanjut, dengan Ruben Amorim disebut sebagai kandidat utama pelatih baru.

Ralf Rangnick secara resmi memperpanjang masa baktinya sebagai pelatih Timnas Austria hingga 2027, sekaligus menutup pintu bagi AC Milan yang sempat membujuknya untuk mengisi posisi direktur teknis. Pelatih asal Jerman itu mengaku keputusan tersebut diambil setelah ia merasa tidak memperoleh kejelasan dari klub Serie A tersebut.
Asosiasi Sepak Bola Austria (ÖFB) mengonfirmasi perpanjangan kontrak Rangnick hingga akhir 2027, dengan opsi perpanjangan otomatis hingga 2028 jika Austria lolos ke Piala Eropa berikutnya. Langkah ini sekaligus mengakhiri spekulasi yang mengaitkan Rangnick dengan San Siro setelah Milan melakukan pendekatan beberapa pekan lalu.
“Kami dihubungi tiga minggu lalu dan terjadi diskusi,” ujar Rangnick kepada Krone.at. “Sejak awal saya sudah menyatakan ingin ada kejelasan sebelum Piala Dunia dimulai—untuk saya, tim, negara, ÖFB, dan para pemain. Itu sudah saya sampaikan dengan jelas.”
Mantan pelatih Manchester United itu menegaskan bahwa ia tidak melihat “kejelasan” dari kubu Rossoneri, yang menjadi faktor utama keputusannya bertahan. “Diskusi dengan ÖFB sangat baik dan penuh kepercayaan. Yang penting bagi saya adalah staf tetap bersama. Saya baru tahu baru-baru ini bahwa semuanya sudah beres dengan staf saya, karena itu keputusan baru diambil sekarang,” tambahnya.
Keputusan Rangnick ini menjadi pukulan bagi Milan yang tengah merombak total struktur manajerialnya. Setelah memecat Massimiliano Allegri, Giorgio Furlani, Geoffrey Moncada, dan Igli Tare pada akhir musim 2025-26, klub asal Lombardy itu masih belum memiliki CEO, direktur teknis, direktur olahraga, maupun pelatih kepala. Kini, mantan pelatih Manchester United, Ruben Amorim, disebut-sebut sebagai kandidat terdepan untuk mengisi kursi pelatih dengan tawaran kontrak dua tahun.
Bagi pengamat sepak bola Italia, kegagalan Milan mendatangkan Rangnick menunjukkan ketidakmampuan klub dalam memberikan kepastian kepada kandidat potensial. “Milan butuh figur kuat yang bisa membawa visi jangka panjang, tapi justru mereka kehilangan salah satu arsitek sepak bola modern karena masalah komunikasi,” ujar analis sepak bola Italia, Marco Rossi.
Di sisi lain, keputusan Rangnick bertahan di Austria disambut positif oleh publik sepak bola Austria. Sejak menangani timnas pada 2022, ia berhasil membawa Austria tampil kompetitif di level internasional, termasuk lolos ke Piala Eropa 2024. Perpanjangan kontraknya dianggap sebagai jaminan stabilitas bagi program sepak bola Austria yang tengah naik daun.
Bagi pembaca di Indonesia, kisruh manajerial Milan ini menjadi pengingat bahwa klub besar sekalipun tidak kebal terhadap kekacauan organisasi. Dengan banyaknya pemain dan pelatih Indonesia yang kini merambah Eropa, stabilitas manajemen klub menjadi faktor penting dalam pengembangan karier mereka. Pertanyaan besarnya: akankah Milan segera menemukan formula yang tepat untuk bangkit, atau justru terpuruk dalam pusaran ketidakpastian?



