Van Tabrak Peserta Pride Berlin, Satu Tewas dan 16 Luka – Polisi Buru Tersangka Afiliasi Islam
Baca dalam 60 detik
- Sebuah van dengan sengaja menabrak kerumunan peserta perayaan Pride Berlin di Taman Tiergarten, mengakibatkan satu korban jiwa dan belasan luka-luka.
- Polisi mengidentifikasi tersangka yang masih buron dan diketahui memiliki hubungan dengan kelompok Islam di Berlin, namun motif serangan masih belum jelas.
- Kejadian ini memicu penghentian acara dan meningkatkan kekhawatiran keamanan di komunitas LGBTQ+, serta berpotensi memengaruhi kebijakan pengamanan di berbagai negara.

Seorang pengemudi van dengan sengaja melaju ke arah kerumunan yang menghadiri festival Pride Berlin pada Sabtu malam (25/7), menewaskan satu orang dan melukai sedikitnya 16 lainnya, dan memaksa polisi menghentikan perayaan serta konser yang baru berlangsung beberapa jam.
Polisi Berlin menyatakan telah mengidentifikasi seorang tersangka yang belum ditangkap dan diketahui memiliki hubungan dengan kelompok Islam di ibu kota Jerman. Juru bicara polisi Florian Nath mengatakan, "Tersangka dikenal oleh kepolisian. Ia dikenal sebagai anggota lingkaran Islam di Berlin, dan pencarian kami terhadap orang ini berlangsung dengan kecepatan penuh." Namun, Nath menambahkan bahwa pihaknya belum memiliki informasi mengenai motif spesifik, urutan kejadian, atau peran tersangka dalam tindak kejahatan itu sendiri.
Menurut keterangan polisi, sebuah van putih melaju ke Taman Tiergarten sekitar pukul 10 malam, kawasan yang berdekatan dengan rute pawai Pride yang telah berlangsung sebelumnya. Kendaraan itu menabrak beberapa orang sebelum akhirnya menabrak pohon. Sejumlah korban dilaporkan mengalami luka yang mengancam jiwa. Polisi juga menyelidiki laporan bahwa beberapa korban mengalami luka tusuk, meskipun belum ada kesimpulan dari kesaksian tersebut.
Sebanyak lebih dari 2.200 personel polisi telah bertugas di Berlin sejak Sabtu pagi untuk mengamankan pawai Pride dan acara LGBTQ+ lainnya. Setelah insiden, polisi meminta semua orang meninggalkan lokasi, sementara ambulans dan petugas pemadam kebakaran menangani korban. Acara di depan Gerbang Brandenburg, dekat Tiergarten, dihentikan sekitar pukul 22.15, dan penampilan band di panggung diinterupsi. Warga diminta pulang dan menghindari rute melalui taman.
Wali Kota Berlin Kai Wegner menyatakan keterkejutannya, mengatakan bahwa "setelah pawai Pride yang damai dan semarak, pertemuan untuk Berlin yang toleran dan damai diserang dengan cara yang paling brutal. Ini adalah serangan terhadap masyarakat kita yang bebas dan kosmopolitan." Sementara itu, pihak berwenang meminta saksi untuk menyerahkan video atau foto yang mungkin mereka ambil di lokasi, dan kota mengaktifkan saluran bantuan krisis bagi orang yang kehilangan teman atau keluarga.
Ratusan ribu orang telah datang ke Berlin untuk merayakan pawai Pride, yang di Jerman dikenal sebagai Christopher Street Day, salah satu perayaan LGBTQ+ terbesar di Eropa. Sebelum insiden, peserta berbaris dengan damai selama berjam-jam, menari mengikuti musik keras, dan bersorak untuk sekitar 80 kendaraan hias. Julian Miethig, seorang peserta yang hadir di pesta LGBTQ+ di Gerbang Brandenburg, mengatakan dia baru mendengar dari seorang teman bahwa "sesuatu yang buruk terjadi dan ada banyak mobil pemadam, kendaraan darurat, ambulans." Ia pergi ke Tiergarten dan terkejut hal seperti ini bisa terjadi di perayaan Pride Berlin. "Ini hari yang gelap bagi komunitas," ujarnya.
Bagi Indonesia, serangan ini menjadi pengingat akan kerentanan acara publik yang merayakan keberagaman. Meskipun perayaan Pride di Indonesia terbatas dan kerap mendapat resistensi, peristiwa ini dapat memicu diskusi tentang keamanan dan toleransi, terutama di tengah meningkatnya ketegangan global terkait isu LGBTQ+. Pemerintah dan komunitas perlu waspada terhadap potensi imitasi aksi, meskipun konteks lokal berbeda.
Serangan ini kembali menimbulkan pertanyaan tentang seberapa siap otoritas mengamankan acara besar di tengah meningkatnya ancaman dari kelompok ekstremis. Dengan tersangka yang masih buron, penyelidikan akan fokus pada jaringan sel tidur dan kemungkinan serangan lanjutan. Perayaan Pride di kota-kota lain mungkin akan mengevaluasi ulang protokol keamanan mereka—sebuah langkah yang tak terhindarkan setelah insiden berdarah ini.



