Barbecues Galore Tutup Setelah Hampir 50 Tahun: 500 Karyawan Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Ritel perlengkapan barbekyu Australia, Barbecues Galore, resmi gulung tikar setelah upaya penyelamatan gagal, menyebabkan 500 pekerja kehilangan pekerjaan.
- Sebanyak 62 toko milik perusahaan akan ditutup bertahap mulai pekan depan, sementara 27 gerai waralaba masih dalam masa transisi.
- Kondisi ekonomi Australia yang menekan daya beli disebut sebagai faktor utama kegagalan penyelamatan merek ikonik ini.

Ritel perlengkapan barbekyu dan furnitur luar ruangan asal Australia, Barbecues Galore, resmi menghentikan operasinya setelah upaya penyelamatan yang berlangsung selama beberapa bulan menemui jalan buntu. Penutupan ini membuat sekitar 500 karyawan kehilangan pekerjaan, menandai akhir dari perjalanan bisnis yang telah berlangsung hampir lima dekade.
Didirikan pada 1977 oleh Max Mason, perusahaan yang dikenal dengan logo merah mencolok ini pertama kali masuk dalam administrasi sukarela pada Februari lalu. Saat itu, manajemen berharap dapat menemukan investor atau kesepakatan restrukturisasi untuk menyelamatkan bisnis. Namun, negosiasi dengan pemilik gedung dan pemasok gagal menghasilkan kesepakatan yang memungkinkan perusahaan melanjutkan operasional dengan persyaratan komersial yang lebih baik.
Mulai pekan depan, 62 toko yang dikelola langsung oleh perusahaan akan ditutup secara bertahap. Sementara itu, 27 gerai waralaba akan menjalani pengaturan transisi yang belum dirinci lebih lanjut. Perusahaan memastikan bahwa seluruh hak dan tunjangan karyawan akan dibayarkan penuh. Namun, pemegang voucher hadiah hanya dapat menggunakannya hingga akhir Juni dengan syarat khusus: setiap nilai voucher $1 Australia hanya dapat digunakan jika pelanggan berbelanja minimal $2 Australia untuk pembelian total minimal $3 Australia.
Analis pasar Roger Montgomery dari Montgomery Investment Management menyebut kebangkrutan ini sebagai "babak akhir yang tragis" bagi merek ritel ikonik Australia. "Jika Anda tidak bisa menjual barbekyu kepada orang Australia, kepada siapa lagi Anda bisa menjualnya?" ujarnya kepada Australian Broadcasting Corporation (ABC). Pernyataan ini menggarisbawahi betapa sulitnya kondisi ekonomi Australia saat ini, di mana tekanan biaya hidup dan penurunan daya beli membuat bisnis yang sudah lemah semakin sulit bertahan.
Kebangkrutan Barbecues Galore menjadi pengingat akan kerasnya persaingan di sektor ritel, terutama bagi merek yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen dan tekanan ekonomi makro. Di Indonesia, fenomena serupa juga mulai terlihat di beberapa sektor ritel tradisional yang tergerus oleh platform e-commerce dan perubahan preferensi belanja masyarakat. Meskipun budaya barbekyu di Indonesia tidak sekuat di Australia, pelajaran dari kasus ini relevan bagi para pelaku usaha lokal: pentingnya inovasi, efisiensi biaya, dan kemampuan menjalin kemitraan strategis untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Ke depan, aset Barbecues Galore akan dilelang mulai 16 Juni. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah merek ini akan dihidupkan kembali oleh investor baru atau benar-benar lenyap dari peta ritel Australia. Sementara itu, nasib 500 mantan karyawan dan pemasok yang terlibat masih menjadi tanda tanya besar.



