Antam Tebar Dividen Jumbo Rp5,04 Triliun, Analis Soroti Daya Tarik Emas dan Nikel
Baca dalam 60 detik
- Antam mengumumkan dividen tunai Rp5,04 triliun dari laba 2025, mencerminkan arus kas yang kuat dan komitmen terhadap pemegang saham.
- Katalis utama prospek Antam adalah harga emas di atas US$4.000 per ons, program cicil emas yang memperluas pasar ritel, serta integrasi bisnis nikel dalam ekosistem baterai kendaraan listrik.
- Analis menilai Antam tetap menjadi proxy emas terbaik di BEI dengan diversifikasi nikel dan alumina sebagai penyangga saat harga emas terkoreksi.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memutuskan membagikan dividen senilai Rp5,04 triliun atau Rp210 per saham dari laba tahun buku 2025, sebuah sinyal kuat bahwa perusahaan tambang pelat merah ini masih memiliki fundamental yang solid di tengah ketidakpastian ekonomi global. Keputusan itu disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 10 Juni 2026.
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai struktur neraca Antam yang sehat dan likuiditas yang kuat menjadi pilar utama di balik aksi korporasi ini. Menurutnya, konsistensi Antam dalam membagikan dividen menunjukkan komitmen perseroan memberikan nilai tambah optimal bagi pemegang saham, sekaligus membuktikan arus kas operasional yang tangguh. "Ke depannya, profitabilitas Antam akan tetap terjaga berkat efisiensi biaya operasional dan optimalisasi volume produksi pada komoditas inti," ujarnya.
Prospek cerah Antam juga didorong oleh sentimen geopolitik dan makroekonomi yang memicu kenaikan harga emas dunia. Kebijakan suku bunga The Fed yang diperkirakan tetap akomodatif turut menjaga daya tarik emas sebagai aset safe haven. Nafan memprediksi margin laba divisi pemurnian logam mulia Antam akan sangat kuat pada tahun ini. Di sisi lain, regulasi pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik menjadi katalis tambahan. Melalui IBC, Antam berkolaborasi dengan CATL dan LG Energy Solution, sementara kebijakan larangan ekspor bahan mentah justru menguntungkan karena Antam telah memiliki smelter feronikel yang mapan.
Fenomena program cicil emas yang kian diminati masyarakat dinilai memberikan dampak positif nyata. Sebagai produsen emas batangan Logam Mulia terbesar di Indonesia dengan sertifikasi LBMA, Antam memasok bank, pegadaian, dan platform digital. "Banyak institusi menyerap pasokan emas batangan langsung dari Antam untuk menjaga standar kualitas. Ini memperluas basis pasar ritel domestik," kata Nafan.
Senada, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menambahkan bahwa diversifikasi emas, nikel, dan alumina menjadi keunggulan struktural Antam. "Prospek masih positif. Katalisnya berasal dari harga emas di atas US$4.000, proyek SGAR beroperasi, dan pelemahan rupiah menguntungkan emiten dengan pendapatan dolar AS," ungkapnya. Wafi menekankan bahwa program cicil emas berpotensi memberikan margin lebih tinggi, dengan kontribusi segmen emas lebih dari 60% terhadap total pendapatan. Ia juga menyebut Antam sebagai "proxy emas terbaik di BEI" karena pangsa pasar terbesar, baik di hulu maupun hilir.
Ke depan, Wafi mengingatkan Antam perlu memastikan persetujuan RKAB, menjaga produksi sesuai rencana, melakukan hedging sebagian pendapatan saat harga tinggi, serta mengefisienkan All In Sustaining Cost (AISC). Bagi investor, perkembangan harga emas dunia dan kurs rupiah menjadi faktor kunci yang harus dicermati. Dengan fundamental yang solid dan diversifikasi bisnis, Antam tampaknya masih menjadi primadona di bursa, namun tantangan eksternal tetap perlu diantisipasi.



