Tanpa Timnas di Piala Dunia, China Jadikan Wasit Ma Ning Bintang Baru
Baca dalam 60 detik
- Wasit asal China, Ma Ning, menjadi pusat perhatian publik setelah timnas gagal lolos ke Piala Dunia 2026, dengan pengikut media sosialnya melonjak hingga hampir 200.000 dalam dua pekan.
- Ma Ning yang dijuluki 'master kartu merah' telah mengamankan sponsor dari Lenovo dan Hisense, menandai pergeseran strategi pemasaran merek global ke figur individu di tengah krisis sepak bola China.
- Kehadiran Ma Ning di Piala Dunia menyoroti kontras antara prestasi individu wasit dan keterpurukan sistem sepak bola China yang dilanda korupsi dan krisis pendanaan.

Wasit asal China, Ma Ning, secara tak terduga menjelma menjadi figur paling populer dari negeri Tirai Bambu di ajang Piala Dunia 2026 yang akan bergulir pekan ini. Di tengah absennya tim nasional China untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut, publik memilih untuk mendukung pria 46 tahun yang dikenal dengan julukan "master kartu merah" itu sebagai representasi kebanggaan nasional.
Popularitas Ma Ning melesat dalam sepekan terakhir. Akun RedNote-nya, yang baru dibuat dua minggu lalu, telah mengumpulkan 197.000 pengikut. Konten pertamanya—memperlihatkan ia mengeluarkan buku merah kecil dari saku rompi wasit—mendapat sambutan viral. Video berikutnya menampilkan persiapannya di Miami, lengkap dengan tablet Lenovo yang terselip di koper, menjadi tontonan yang ditunggu warganet.
Fenomena ini tidak lepas dari kondisi sepak bola China yang sedang terpuruk. Sejak debut di Piala Dunia 2002 tanpa mencetak satu poin pun, China tak pernah lagi lolos ke putaran final. Krisis pendanaan dan skandal korupsi yang meluas telah menjatuhkan hukuman seumur hidup bagi sejumlah pemain, wasit, dan ofisial klub. Dalam situasi demikian, Ma Ning hadir sebagai cerita sukses individu yang langka.
Bagi pengamat olahraga, dukungan publik terhadap Ma Ning mencerminkan kerinduan akan prestasi di tengah kegagalan sistemik. "Kami punya Ma Ning, kalian punya siapa?" tulis salah satu pengguna RedNote. Ungkapan lain berbunyi, "Negara lain menonton timnya bermain, kami menonton wasit kami mengeluarkan kartu." Sentimen ini menunjukkan bahwa meski tim nasional absen, semangat kompetisi tetap hidup melalui figur alternatif.
Dari sisi komersial, kepopuleran Ma Ning menarik minat merek-merek besar. Lenovo dan Hisense telah mengikat kerja sama sponsorship, memanfaatkan momen untuk menjangkau audiens yang haus akan representasi China di panggung global. Langkah ini mengingatkan pada strategi pemasaran di Indonesia ketika atlet individu seperti atlet bulu tangkis atau pesilat menjadi ikon meski cabang olahraga tim belum berprestasi.
Bagi Indonesia, fenomena Ma Ning memberikan pelajaran berharga. Di tengah perjuangan Timnas Indonesia untuk menembus Piala Dunia, figur wasit atau ofisial asal Tanah Air yang bertugas di turnamen besar bisa menjadi sumber kebanggaan alternatif. Kehadiran wasit Indonesia di ajang internasional, seperti yang pernah dilakukan oleh beberapa wasit FIFA asal Indonesia, dapat dimanfaatkan untuk membangun narasi positif dan menarik sponsor.
Ma Ning sendiri menyambut tugasnya dengan percaya diri. "Saya menjalani penunjukan ini dengan keyakinan dan ketenangan. Piala Dunia, kami datang," tulisnya di RedNote. Pertanyaan besarnya kini: dapatkah popularitas Ma Ning bertahan setelah turnamen usai, ataukah ia hanya akan menjadi pelipur lara sementara bagi publik China? Jawabannya mungkin akan menentukan apakah model "bintang wasit" ini bisa menjadi strategi berkelanjutan bagi negara-negara yang timnasnya belum berjaya.

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8219771/original/041348600_1781079539-AA-3.jpg)
