Bank Raya Optimistis Kredit Digital Tumbuh 29% di Kuartal I-2026, Ini Strateginya
Baca dalam 60 detik
- PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) mencatat laba bersih Rp6,79 miliar pada kuartal I-2026, ditopang oleh ekspansi kredit digital yang tumbuh 29% secara tahunan.
- Porsi kredit digital mencapai 45,6% dari total portofolio, naik signifikan dari 32,1% setahun sebelumnya, sejalan dengan transformasi menjadi bank digital.
- Bank Raya mengandalkan strategi eksploitasi di ekosistem BRI dan eksplorasi di luar grup untuk mendorong pertumbuhan bisnis digital berkelanjutan.

PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) membukukan laba bersih sebesar Rp6,79 miliar pada kuartal pertama 2026, didorong oleh pertumbuhan kredit digital yang mencapai 29% secara tahunan. Dalam paparan publik yang digelar Selasa (9/6/2026), manajemen menyatakan optimisme terhadap prospek bisnis digital di tengah persaingan industri perbankan yang semakin ketat.
Direktur Utama Bank Raya, Ida Bagus Ketut Subagia, menekankan bahwa perseroan tidak hanya mengandalkan ekspansi agresif, tetapi juga menjaga fundamental keuangan yang solid. “Kami terus mengoptimalkan inovasi produk kepada nasabah melalui ragam solusi keuangan digital yang relevan dengan masyarakat,” ujarnya dalam keterangan resmi. Salah satu indikator perbaikan adalah rasio NIM yang naik 91 basis poin menjadi 5,78% dari 4,87% pada periode yang sama tahun lalu.
Bank Raya menerapkan dua pendekatan utama untuk mendorong bisnis digital: eksploitasi dan eksplorasi. Melalui strategi eksploitasi, perseroan memanfaatkan sinergi dengan BRI Group, termasuk anak usaha, untuk mengoptimalkan peluang di ekosistem yang sudah ada. Sementara itu, pendekatan eksplorasi menyasar pasar di luar grup melalui kerja sama dengan mitra potensial. Langkah ini memungkinkan Bank Raya memperluas basis nasabah tanpa bergantung sepenuhnya pada ekosistem induk.
Produk unggulan Pinang Dana Talangan tetap menjadi motor pertumbuhan. Hingga Maret 2026, Bank Raya telah menyalurkan Rp7,25 triliun melalui produk ini, meningkat 33,4% dibandingkan tahun lalu, dengan outstanding mencapai Rp1,15 triliun. Produk ini menyasar sekitar 52 ribu Agen BRILink dan Agen Gadai, menunjukkan bagaimana Bank Raya memanfaatkan jaringan offline untuk mendorong adopsi digital.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp8,44 triliun, dengan dana murah (giro dan tabungan) tumbuh 30,2% menjadi Rp3 triliun. Digital Saving menjadi kontributor utama, melonjak 63,9% menjadi Rp2,30 triliun. Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan digital Bank Raya, sejalan dengan upaya literasi dan inklusi keuangan yang gencar dilakukan.
Bank Raya juga memperkuat tata kelola teknologi informasi dengan meraih sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 untuk sistem manajemen keamanan informasi. Langkah ini penting untuk menjaga kepercayaan nasabah di tengah meningkatnya risiko siber. Selain itu, perseroan telah mengantongi predikat “Sangat Terpercaya” dalam Corporate Governance Perception Index (CGPI) 2025 serta berbagai sertifikasi lain seperti ISO 37001:2016 (anti-penyuapan) dan ISO 9001:2015 (manajemen mutu).
Hingga akhir Maret 2026, aplikasi Raya telah memiliki lebih dari 100 fitur dan diakses oleh lebih dari 1 juta nasabah. Inovasi terbaru seperti Saku Bisnis, Uang Saku, Saku Bareng, dan Kartu Digital Debit Visa menunjukkan upaya Bank Raya untuk menjangkau berbagai segmen, mulai dari pelaku UMKM hingga anak-anak. Ke depan, perseroan berencana meluncurkan fitur yang memungkinkan nasabah mengelola keuangan sambil menyalurkan hobi.
Dengan rasio kecukupan modal (CAR) di level 41,80% dan likuiditas yang sangat longgar (LCR 442,55%), Bank Raya memiliki bantalan yang kuat untuk berekspansi. Namun, manajemen menegaskan bahwa setiap langkah pertumbuhan tetap diiringi prinsip kehati-hatian. “Kami melihat peluang pertumbuhan digital masih terbuka, namun kami melangkah dengan memastikan setiap ekspansi didukung fundamental yang kuat,” kata Bagus.
Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa cepat Bank Raya dapat mengejar ketertinggalan dari bank digital lain seperti Bank Jago atau Seabank, terutama dalam hal akuisisi nasabah dan pangsa pasar. Dengan strategi ganda yang mengandalkan sinergi grup dan kemitraan eksternal, Bank Raya tampaknya ingin membangun pertumbuhan yang lebih organik dan berkelanjutan, bukan sekadar mengejar jumlah pengguna.



