Tuchel Kelola Beban Saka Jelang Piala Dunia: Cedera Otot Jadi Perhatian
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Inggris Thomas Tuchel mengakui Bukayo Saka masih dalam pemulihan cedera otot yang diderita sejak Maret, sehingga menit bermainnya akan diatur ketat.
- Tuchel menegaskan Inggris bukan favorit juara Piala Dunia 2026 meski dua kali final Euro, membandingkannya dengan petenis yang lama tanpa gelar Wimbledon.
- Di tengah isu politik dan visa yang membayangi turnamen, Tuchel bersyukur FA membantunya fokus penuh pada aspek teknis sepak bola.

Pelatih kepala Timnas Inggris, Thomas Tuchel, mengonfirmasi bahwa kondisi fisik Bukayo Saka masih menjadi prioritas utama menjelang Piala Dunia 2026. Penyerang Arsenal itu mengalami cedera otot pada Maret lalu dan baru pulih pada akhir musim, sehingga manajemen kebugarannya dilakukan secara hati-hati agar tidak kambuh saat turnamen bergulir.
"Kami masih harus sedikit berhati-hati dengan Bukayo. Ia cedera pada Maret dan tetap bermain sepanjang sisa musim klub. Ia tampil brilian, tetapi butuh pemulihan di antara pertandingan. Proses itu masih berlangsung—kami sedang membangunnya kembali," ujar Tuchel dalam konferensi pers, seperti dikutip BBC. Saka, yang telah mencetak 14 gol dalam 48 penampilan bersama The Three Lions, menjadi andalan di sisi sayap. Kehilangan dirinya karena cedera tentu menjadi skenario terburuk yang ingin dihindari tim pelatih.
Tuchel juga mengisyaratkan akan memberikan menit bermain lebih panjang kepada beberapa pemain dalam laga uji coba terakhir melawan Kosta Rika, Rabu (21:00 BST). Setelah melakukan 11 pergantian pemain saat babak pertama melawan Selandia Baru, ia ingin meningkatkan kebugaran tim inti. John Stones, yang minim menit bermain di Manchester City musim lalu, menjadi salah satu kandidat yang akan mendapat kesempatan tampil lebih dari 45 menit. "Semua pemain fit dan siap. Tidak ada keluhan cedera setelah pertandingan pertama. Kami akan memberikan waktu bermain 60 hingga 70 menit," tegas pelatih asal Jerman itu.
Menariknya, Tuchel justru menepis status favorit yang kerap disematkan pada Inggris. Meski dua kali mencapai final Euro dan konsisten lolos ke semifinal serta perempat final Piala Dunia, ia menilai sejarah panjang tanpa gelar membuat Inggris layak disebut penantang, bukan unggulan. "Jika Anda pergi ke Wimbledon dan belum menang selama 60 tahun, Anda bukan favorit—tetapi Anda bisa menang. Itulah yang kami inginkan," ujarnya, menganalogikan dengan turnamen tenis legendaris. Ia menekankan pentingnya fokus langkah demi langkah, disiplin, dan keberanian untuk bermimpi.
Di sisi lain, Tuchel mengapresiasi dukungan Federasi Sepak Bola Inggris (FA) yang membantunya memisahkan urusan politik dari persiapan tim. Isu visa dan politik belakangan mewarnai jelang Piala Dunia, termasuk penolakan masuk wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, ke Amerika Serikat serta masalah visa pemain Iran. "Saya bersyukur FA mengizinkan saya bicara soal sepak bola saja. Kami tidak boleh terganggu. Fokus saja sudah cukup sulit," kata Tuchel.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pendekatan Tuchel mengingatkan pada pentingnya manajemen beban pemain kunci di turnamen besar—pelajaran yang relevan bagi Timnas Indonesia yang mulai sering berlaga di ajang internasional. Pertanyaan besarnya: akankah Inggris mampu memutus puasa gelar 60 tahun di bawah asuhan pelatih asing pertama mereka sejak Fabio Capello?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4295114/original/060254000_1674043893-Persebaya_Surabaya_Bantai_Persita_Tangerang_5-0_di_Liga_1-Ichsan-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5787041/original/089219800_1778689740-nadeo_a.jpg)
