Kolektor Bir Piala Dunia: Berburu 48 Botol dari Negara Peserta, dari Qatar hingga Irak
Baca dalam 60 detik
- Gus Hully, analis industri musik asal London, berhasil mengumpulkan satu botol bir dari masing-masing 48 negara peserta Piala Dunia 2026 di AS, Meksiko, dan Kanada.
- Koleksi ini melibatkan negosiasi rumit, termasuk membeli bir Irak dari kolektor di Polandia dan menukar bir langka Inggris dengan bir Qatar dari Finlandia.
- Gus berencana meminum setiap bir saat tim yang bersangkutan tersingkir, namun mengaku tantangan ini terlalu berat dan kemungkinan menjadi yang terakhir baginya.

Seorang penggemar sepak bola asal Inggris, Gus Hully, berhasil menyelesaikan misi pribadinya: mengoleksi satu botol bir dari setiap negara yang berlaga di Piala Dunia 2026. Dengan 48 tim peserta—rekor terbanyak dalam sejarah turnamen—pencapaian ini bukan sekadar hobi, melainkan bukti dedikasi dan jaringan global yang luar biasa.
Berawal dari kegagalannya mengumpulkan bir untuk Piala Dunia 2014, Gus yang bekerja sebagai analis industri musik di London mulai serius menekuni koleksi ini sejak Euro 2016. Setiap turnamen besar pria dan wanita, termasuk Eurovision, ia sambangi dengan target serupa. Namun, Piala Dunia 2026 dengan 48 negara menjadi tantangan terberat. "Butuh banyak waktu dan tenaga untuk menyatukan semuanya," ujarnya kepada BBC Sport.
Gus memulai riset pada awal 2025, saat Uzbekistan menunjukkan performa impresif di kualifikasi Asia. Ia terus memantau hasil pertandingan untuk mengantisipasi negara-negara yang sulit dicari birnya. Setelah mengamankan negara-negara mudah, ia mengerahkan semua koneksi. Beberapa keberuntungan datang saat liburan di Florida, ia menemukan bir Panama dari pabrik rumahan Casa Bruja. Namun, negara seperti Irak membutuhkan usaha ekstra: ia harus membayar 30 poundsterling kepada seorang pria di Polandia yang pernah membawa pulang botol Irak sebagai suvenir.
Untuk negara dengan larangan alkohol seperti Qatar dan Arab Saudi, Gus beralih ke minuman malt non-alkohol yang diseduh dengan barley malt—alternatif terdekat dengan bir. Komunitas Iran di Finchley, London Utara, membantunya mendapatkan bir Iran, sementara untuk Qatar ia harus menukar bir langka Inggris dengan kolektor Finlandia. "Saya menukar bir Panama dengan botol Moussy dari Saudi," jelasnya. Bahkan, ia membeli bir dari negara yang tidak lolos kualifikasi seperti Kosta Rika dan Guatemala, sekadar berjaga-jaga.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Gus mungkin terasa asing namun inspiratif. Di tengah keterbatasan akses terhadap bir impor dan regulasi alkohol yang ketat, kolektor lokal bisa belajar dari kegigihannya. Piala Dunia 2026 yang digelar di tiga negara—AS, Meksiko, Kanada—juga menjadi ajang bagi diaspora Indonesia di sana untuk merasakan atmosfer multikultural. Meski Indonesia tidak lolos, turnamen ini tetap relevan sebagai tontonan global yang menyatukan berbagai budaya.
Gus tidak akan bepergian ke Piala Dunia termahal dalam sejarah ini. "Biaya penerbangan, hotel, dan tiket terlalu mahal," katanya. Ia berencana meminum setiap bir begitu tim yang bersangkutan tersingkir—"sebagai penghormatan atas partisipasi dan kegagalan mereka." Namun, ia mengaku tantangan 48 bir ini terlalu merepotkan, dan kemungkinan besar ini adalah koleksi Piala Dunia terakhirnya. Meski begitu, Euro 2028 yang hanya 24 tim mungkin akan dicobanya lagi, terutama jika Andorra atau San Marino lolos—"saya tak keberatan jalan-jalan ke negara yang belum pernah saya kunjungi."
Pertanyaan besarnya: akankah ada penggemar Indonesia yang terinspirasi melakukan hal serupa untuk Piala Dunia 2026? Atau justru Piala Dunia yang semakin mahal ini akan mengurangi semangat koleksi semacam itu?


