Koeman Bela Donyell Malen: Ketajaman di Roma Tak Luntur, Hanya Sedikit Seret di Lini Depan Timnas
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Belanda Ronald Koeman membela Donyell Malen yang dikritik setelah gagal memanfaatkan peluang emas di laga uji coba pra-Piala Dunia 2026.
- Malen tampil gemilang bersama AS Roma dengan 14 gol dari 18 laga Serie A, menjadi aktor utama lolosnya Giallorossi ke Liga Champions.
- Koeman menegaskan etos kerja Malen tetap tinggi, dan masalah hanya pada efisiensi yang bisa diperbaiki dengan bantuan asisten Ruud van Nistelrooy.

Pelatih tim nasional Belanda, Ronald Koeman, angkat bicara membela penyerang andalannya, Donyell Malen, yang menuai kritik tajam di kampung halaman setelah gagal mengonversi dua peluang emas dalam laga uji coba menjelang Piala Dunia 2026. Meski performa Malen bersama AS Roma musim ini nyaris sempurna, sorotan negatif tetap menghampiri sang pemain saat berseragam Oranye.
Malen bergabung dengan Roma pada bursa transfer Januari 2026, awalnya dengan status pinjaman dari Aston Villa yang disertai opsi pembelian. Opsi itu otomatis berubah menjadi kewajiban setelah Roma memastikan tiket ke Eropa, dan klub pun menebus Malen sebesar €25 juta dengan kontrak hingga 2030. Keputusan itu terbukti tepat: dalam 18 penampilan Serie A, Malen mencetak 14 gol dan mengubah wajah serangan Giallorossi, menjadi motor utama keberhasilan Roma lolos ke Liga Champions.
Ketajaman Malen di Italia membuatnya finis sebagai runner-up kedua dalam perburuan Capocannoniere, hanya terpaut tiga gol dari pemuncak klasemen Lautaro Martinez. Namun, dua peluang yang gagal ia selesaikan di laga uji coba Belanda memicu keraguan publik. Koeman menilai kritik itu berlebihan dan menegaskan bahwa masalah Malen bukan pada sikap atau komitmen, melainkan semata-mata pada efisiensi di depan gawang.
“Dia sudah membuktikan bisa mencetak gol. Tidak mungkin dia lupa caranya. Yang lebih mengkhawatirkan adalah jika komitmennya menurun, tapi itu tidak terjadi,” ujar Koeman dalam konferensi pers. “Namun, efisiensi adalah segalanya di sepak bola. Itu sangat rendah, terlalu rendah.” Pernyataan Koeman menunjukkan bahwa ia masih percaya penuh pada kemampuan Malen, meski ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Menariknya, lini depan Belanda saat ini diasuh oleh legenda Manchester United dan Real Madrid, Ruud van Nistelrooy, yang bertindak sebagai asisten pelatih. Koeman bercanda bahwa mungkin van Nistelrooy-lah yang harus disalahkan atas tumpulnya para penyerang. “Dia sudah bergabung sejak Februari, mungkin ini salahnya,” canda Koeman. “Setiap hari saya lihat dia dengan laptop, duduk bersama para pemain, memutar video, membicarakan pilihan mereka. Ruud punya pengalaman luar biasa dan bisa banyak membantu kami.”
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Malen menjadi pengingat bahwa performa di klub tidak selalu otomatis terbawa ke tim nasional. Tekanan membela negara, ekspektasi tinggi, dan adaptasi taktik bisa menjadi faktor pembeda. Belanda, yang dikenal sebagai salah satu kandidat kuat juara Piala Dunia 2026, sangat bergantung pada ketajaman Malen untuk menembus pertahanan lawan. Jika Malen mampu kembali ke performa terbaiknya di Roma, Oranye akan menjadi ancaman serius di turnamen mendatang.
Pertanyaan besarnya: mampukah Malen membungkam kritik dan membuktikan ketajamannya di panggung terbesar sepak bola dunia? Atau justru tekanan akan semakin membebaninya? Jawabannya akan segera terlihat saat Belanda memulai perjalanan mereka di Piala Dunia 2026.



