IHSG Melonjak 7,57%, Empat Saham Ini Justru Ambruk: Ada Aksi Ambil Untung dan Ex Dividen
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup melesat 7,57% ke 5.746,65 pada Selasa (9/6/2026) dengan kapitalisasi pasar tembus Rp10.120 triliun.
- Empat saham top losers—GRIA, CTBN, MPMX, dan DPUM—mengalami koreksi tajam akibat profit taking, ex dividen, dan sentimen hukum.
- Pelemahan saham CTBN dan MPMX dipicu periode ex dividen, sementara DPUM masih dibayangi kasus hukum dan suspensi sebelumnya.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat lonjakan signifikan pada penutupan perdagangan Selasa (9/6/2026), terbang 7,57% atau 404,51 poin ke level 5.746,65. Di tengah euforia pasar yang menggerakkan 678 saham ke zona hijau, sejumlah emiten justru terperosok dalam posisi top losers, mencatatkan koreksi dua digit yang menarik perhatian investor.
Reli IHSG kali ini didorong oleh aksi beli besar-besaran di berbagai sektor, dengan nilai transaksi mencapai Rp27,77 triliun dan volume 44,70 miliar saham. Kapitalisasi pasar pun meroket menjadi Rp10.120 triliun. Namun, di balik pesta pora tersebut, empat saham mencatatkan penurunan paling dalam: PT Ingria Pratama Capitalindo Tbk (GRIA) turun 14,88%, PT Citra Tubindo Tbk (CTBN) melemah 14,77%, PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) terkoreksi 14,49%, dan PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) ambles 14,67%.
Analis pasar menilai pelemahan GRIA lebih disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) setelah saham tersebut mengalami kenaikan tajam sehari sebelumnya, saat IHSG justru anjlok. Fenomena ini menunjukkan bahwa investor cenderung merealisasikan keuntungan di tengah volatilitas tinggi. Sementara itu, CTBN dan MPMX masuk dalam periode ex dividen, yang secara teknis memicu penurunan harga saham karena hak dividen telah dipisahkan. CTBN membagikan dividen tunai Rp465 per saham untuk tahun buku 2025, dengan cum dividen pada 8 Juni dan ex dividen pada 9 Juni. Adapun MPMX mendistribusikan dividen Rp170 per saham, total mencapai Rp451,9 miliar, yang sebelumnya mendorong aksi borong saham sebelum ex dividen.
Kondisi berbeda dialami DPUM, yang masih dibayangi oleh rekam jejak kasus hukum dan suspensi perdagangan. Saham ini sempat melonjak spekulatif akibat rencana akuisisi oleh investor strategis, namun kemudian jatuh setelah suspensi. Dalam keterbukaan informasi, manajemen DPUM mengakui bahwa kinerja 2026 masih tertekan beban pajak tangguhan, sehingga laba bersih belum pulih sepenuhnya. Hal ini membuat investor ekstra hati-hati terhadap prospek emiten tersebut.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa reli indeks tidak selalu mencerminkan kinerja seluruh emiten. Aksi korporasi seperti pembagian dividen dan sentimen hukum dapat menciptakan divergensi signifikan. Terlebih, dengan volatilitas tinggi pasca-pemulihan ekonomi, investor perlu mencermati fundamental dan jadwal aksi korporasi untuk menghindari jebakan harga. Ke depan, pergerakan saham-saham tersebut akan bergantung pada kemampuan emiten memperbaiki kinerja dan menyelesaikan isu hukum, sementara IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan jika sentimen eksternal mendukung.



