DPR Panggil Bos Himbara, Danantara, dan BPJS Bahas Anjloknya Saham Bank BUMN
Baca dalam 60 detik
- Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco memimpin pertemuan dengan direksi Himbara, Danantara, Taspen, BPJS, dan INA untuk merespons tekanan di pasar saham.
- Para bankir BUMN mengklaim fundamental perbankan masih kuat dengan pertumbuhan kredit 20% dan NPL di bawah 2%, namun sentimen pasar tetap negatif.
- Pertemuan ini menegaskan koordinasi antara DPR, pemerintah, dan BUMN untuk menjaga stabilitas sektor keuangan di tengah gejolak bursa.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengumpulkan para direktur utama Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), Kepala Badan Pelaksana BUMN/Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria, serta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam sebuah rapat tertutup di kompleks parlemen, Selasa (9/6/2026). Pertemuan itu digelar untuk membahas fenomena anjloknya saham-saham perbankan BUMN yang ikut terseret arus negatif di bursa efek Indonesia.
Dalam konferensi pers seusai pertemuan, Dasco menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari koordinasi dan evaluasi terhadap situasi perbankan nasional. Ia menegaskan bahwa secara fundamental, saham-saham bank BUMN masih layak dibeli kembali. "Mungkin saham-saham yang pada saat ini bagus dan kemudian bisa dibeli kembali," ujarnya.
Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., Putrama Wahju Setyawan, memaparkan bahwa kinerja fundamental Himbara saat ini berada dalam kondisi terbaik. Ia menyebut pertumbuhan kredit mencapai kisaran 20%, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 20β30%, rasio likuiditas (LDR) terjaga di 88β90%, dan Non Performing Loan (NPL) masih di bawah 2%. "Tidak perlu ada kekhawatiran terhadap fundamental di bursa," tegasnya.
Mensesneg Prasetyo Hadi mengapresiasi inisiatif DPR yang memfasilitasi diskusi ini. Menurutnya, pertemuan tersebut membuktikan bahwa fundamental ekonomi dari sisi perbankan cukup kuat. Ia juga berterima kasih kepada Dony Oskaria, jajaran Himbara, Taspen, BPJS Ketenagakerjaan, dan Indonesia Investment Authority (INA) yang terus berkoordinasi untuk mengatasi permasalahan ekonomi.
Pertemuan ini dihadiri oleh sejumlah petinggi BUMN, antara lain Direktur Utama BRI Hery Gunardi, Direktur Utama Bank Mandiri Riduan, Direktur Utama Taspen Rony Hanityo Aprianto, Direktur Utama INA Oki Ramadhana, dan Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Saiful Hidayat. Kehadiran mereka menunjukkan keseriusan dalam merespons gejolak pasar yang dipicu oleh sentimen global dan domestik.
Bagi investor dan pelaku pasar di Indonesia, sinyal dari pertemuan ini cukup jelas: pemerintah dan DPR berkomitmen menjaga stabilitas sektor perbankan BUMN. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah fundamental yang kuat cukup untuk membendung tekanan eksternal, mengingat indeks harga saham gabungan (IHSG) masih rentan terhadap perubahan kebijakan global dan aliran modal asing.
Ke depan, koordinasi antara otoritas fiskal, moneter, dan regulator pasar modal akan menjadi kunci. Apakah langkah-langkah non-fundamental seperti buyback saham atau intervensi pasar akan diambil? Ataukah cukup dengan keyakinan bahwa fundamental perbankan BUMN akan kembali dihargai pasar? Waktu yang akan menjawab.



