Harga Minyak Anjlok 7% dalam Sepekan: Premi Risiko Iran Menguap
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent terkoreksi ke US$89,41 per barel pada Jumat (12/6/2026), melanjutkan tren penurunan mingguan terbesar dalam beberapa bulan.
- Pembatalan rencana serangan AS ke Iran oleh Presiden Trump menghilangkan premi geopolitik yang sebelumnya mendorong harga mendekati US$100 per barel.
- Meski Selat Hormuz masih terancam ditutup, pasar mulai mengabaikan risiko karena belum ada gangguan fisik pasokan.

Harga minyak mentah dunia mencatat koreksi mingguan terparah dalam beberapa bulan terakhir setelah kekhawatiran konflik langsung antara Amerika Serikat dan Iran mereda. Pada perdagangan Jumat (12/6/2026), Brent turun 1,07% ke US$89,41 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 1% ke US$86,83 per barel. Dalam sepekan, Brent telah kehilangan sekitar 8,6% dari level tertingginya di US$97,81 pada awal Juni.
Penurunan ini dipicu oleh keputusan Presiden AS Donald Trump yang membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran. Reuters melaporkan, pada Kamis waktu setempat, Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran menunjukkan kemajuan sehingga operasi militer tidak diperlukan. Langkah itu langsung mengubah sentimen pasar: pelaku yang sebelumnya memborong aset energi mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking), mengempiskan premi risiko geopolitik yang sempat membengkak.
Sebelumnya, harga minyak sempat mendekati US$100 per barel akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah, termasuk ancaman Iran menutup Selat Hormuz. Jalur laut strategis itu setiap hari dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Iran pada Rabu lalu mengumumkan penutupan selat tersebut dan memperingatkan kapal komersial akan menghadapi serangan. Namun, militer AS memastikan lalu lintas kapal masih berlangsung normal, sehingga pasar menilai gangguan fisik terhadap pasokan global belum terjadi.
Analis IG Tony Sycamore menilai, meski koreksi cukup dalam, risiko sebenarnya belum sepenuhnya hilang. "Selama harga minyak masih bertahan di atas support US$80 per barel, potensi penguatan kembali tetap terbuka," ujarnya. Ketidakpastian di Timur Tengah, terutama status Selat Hormuz, masih menjadi faktor yang akan terus dipantau pelaku pasar. Dengan kata lain, volatilitas masih mungkin terjadi jika situasi politik kembali memanas.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak ini berdampak langsung pada anggaran subsidi energi dan defisit neraca perdagangan. Pemerintah telah mengalokasikan subsidi BBM dan LPG yang sensitif terhadap pergerakan harga minyak mentah. Jika tren penurunan berlanjut, beban subsidi bisa berkurang, memberi ruang fiskal lebih besar. Namun, jika ketegangan Timur Tengah kembali meninggi, harga bisa melonjak lagi dan menekan anggaran negara.
Ke depan, pasar akan fokus pada perkembangan diplomasi AS-Iran serta realisasi ancaman penutupan Selat Hormuz. Pertanyaan yang mengemuka: apakah koreksi ini hanya jeda sementara atau awal dari tren bearish berkepanjangan? Jawabannya bergantung pada apakah risiko geopolitik benar-benar mereda atau hanya tertunda.



