Xi dan Kim Pererat Hubungan di Tengah Ketegangan Global: Kunjungan ke Pyongyang Tak Bahas Denuklirisasi
Baca dalam 60 detik
- Xi Jinping melakukan kunjungan kenegaraan pertamanya ke Korea Utara sejak 2019, disambut meriah oleh Kim Jong Un.
- Pembicaraan tidak menyentuh isu denuklirisasi, menandakan pergeseran prioritas China di tengah rivalitas dengan AS dan kedekatan Korut-Rusia.
- Kunjungan ini mengirim sinyal ke Washington dan Moskow bahwa China tetap menjadi mitra utama Pyongyang, meski ada perbedaan model pembangunan.

Presiden China Xi Jinping menuntaskan kunjungan dua hari ke Pyongyang pada Selasa (25/6), menandai lawatan pertamanya ke Korea Utara dalam lima tahun terakhir. Kunjungan yang sarat simbolisme ini terjadi di tengah upaya Beijing mempertahankan pengaruh atas sekutunya yang kian mendekat ke Rusia.
Kim Jong Un menyambut Xi dengan upacara megah, mulai dari karpet merah hingga pertunjukan akrobat. Meski tidak ada kesepakatan konkret yang diumumkan, Kim menegaskan bahwa pilihan Xi menjadikan Pyongyang sebagai tujuan kunjungan kenegaraan pertamanya tahun ini menunjukkan "prioritas tertinggi" dalam hubungan bilateral, demikian laporan KCNA.
Kunjungan ini berlangsung hanya beberapa pekan setelah Xi bertemu dengan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Bagi Kim, kehadiran Xi di Pyongyang menjadi bukti bahwa ia memiliki sekutu penting di tengah sanksi internasional yang terus berlanjut. Sementara bagi Xi, lawatan ini diyakini cukup untuk mengingatkan Kim bahwa China adalah mitra utamanya.
Dalam pidato jamuan makan malam, Xi menyebut kedua negara "terikat oleh gunung dan sungai serta berbagi takdir bersama", seperti dilaporkan Xinhua. Kim membalas dengan menegaskan komitmen Korea Utara untuk terus menjadikan persahabatan dengan China sebagai prioritas utama dan kembali mendukung prinsip "Satu China". Kedua pemimpin juga menanam pohon cemara di sekolah kader Pyongyang sebagai simbol persahabatan abadi.
Namun, di balik kemeriahan, terdapat celah yang tak sepenuhnya tersembunyi. Dalam pernyataan resmi, tidak ada satu pun bahasan mengenai denuklirisasi Semenanjung Korea. Hal ini menandai perubahan sikap Beijing yang dalam beberapa tahun terakhir jarang menyinggung isu tersebut secara publik. "Elemen dalam laporan China menunjukkan bahwa Presiden Xi mungkin frustrasi," kata Sydney Seiler, Ketua CSIS Korea Chair, di platform X. Menurutnya, Kim tidak menyebutkan proses pembangunan dan "Korea Utara masih menolak belajar dari pengalaman pembangunan China."
Beijing selama ini mendorong Pyongyang mengadopsi model kepemimpinan Komunis ala China: mempertahankan kekuasaan partai tunggal sambil membuka pasar dan investasi asing. Namun, Korea Utara sejauh ini enggan mengikuti jejak tersebut. Xi dalam pidatonya berharap kunjungan ini dapat "bersama-sama membuka masa depan yang lebih cerah bagi perjuangan sosialis kedua negara"โsebuah pernyataan yang menjadi titik sensitif bagi China.
Bagi Indonesia, dinamika hubungan China-Korea Utara memiliki implikasi tersendiri. Sebagai negara yang aktif dalam forum regional seperti ASEAN dan kerap menyuarakan denuklirisasi, Indonesia perlu mencermati pergeseran sikap China yang semakin lunak terhadap program nuklir Korut. Jika Beijing mengurangi tekanan denuklirisasi, maka upaya multilateral untuk menekan Pyongyang bisa kehilangan salah satu pendorong utamanya. Di sisi lain, menguatnya poros Beijing-Pyongyang-Moskow berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di Asia Timur, yang secara tidak langsung memengaruhi stabilitas kawasan dan kebijakan luar negeri Indonesia.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: akankah China mampu mempertahankan pengaruhnya atas Korea Utara di tengah godaan Pyongyang untuk lebih dekat ke Rusia? Atau justru kunjungan Xi kali ini menjadi awal dari hubungan yang semakin timpang, di mana Kim mendapatkan legitimasi tanpa harus memenuhi tuntutan Beijing?


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542603/original/063095800_1774947762-Pramono_Pelindo.jpeg)