Anthropic Gencar Ekspansi Infrastruktur, Google Diminta Jadi Penjamin Sewa Data Center
Baca dalam 60 detik
- Anthropic telah menandatangani lebih dari selusin perjanjian awal untuk menyewa pusat data di AS dengan kapasitas gabungan lebih dari 1 gigawatt.
- Startup AI ini meminta Google, investor utamanya, untuk memberikan jaminan finansial atas pembayaran sewa guna mempercepat ekspansi infrastruktur.
- Langkah ini dilakukan menjelang IPO yang telah diajukan secara rahasia, dengan valuasi pasca-pendanaan mencapai 965 miliar dolar AS.
Perusahaan kecerdasan buatan (AI) Anthropic tengah bersiap mengelola sendiri pusat data yang akan disewanya, dan meminta dukungan finansial dari Alphabet lewat Google untuk menjamin pembayaran sewa. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya permintaan terhadap model AI Claude buatan mereka, sekaligus menjelang rencana penawaran umum perdana (IPO) yang telah diajukan secara rahasia ke otoritas pasar modal AS.
Menurut laporan The Information yang dikutip Kamis (11/6), Anthropic telah meneken lebih dari selusin perjanjian awal untuk menyewa pusat data di Amerika Serikat dengan total kapasitas lebih dari 1 gigawatt. Rencana ini menunjukkan ambisi besar startup yang berbasis di San Francisco itu untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada penyedia cloud pihak ketiga, melainkan mengelola sendiri infrastruktur komputasinya.
Dalam negosiasi yang masih berlangsung, eksekutif Anthropic juga membahas skema di mana Google—yang telah menjadi investor utama dan turut merancang sebagian chip server yang mungkin digunakan—akan memberikan jaminan finansial untuk pembayaran sewa. Jaminan semacam ini lazim diberikan oleh investor strategis untuk mengurangi risiko kredit penyewa, terutama untuk kontrak jangka panjang bernilai miliaran dolar. Google sendiri menolak berkomentar, dengan juru bicaranya mengatakan pihaknya tidak menanggapi rumor atau spekulasi.
Langkah ekspansi ini tidak lepas dari pertumbuhan pesat permintaan terhadap keluarga model Claude, yang digunakan oleh berbagai perusahaan untuk otomatisasi, analisis data, dan pengembangan perangkat lunak. Untuk memenuhi kebutuhan komputasi yang terus membengkak, Anthropic telah menandatangani sejumlah kesepakatan besar guna menambah kapasitas komputasi. Keputusan untuk mengelola sendiri pusat data juga dapat memberikan kendali lebih besar atas biaya dan keamanan, serta mengurangi ketergantungan pada penyedia cloud seperti Amazon Web Services atau Microsoft Azure.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Investasi besar-besaran di infrastruktur AI oleh perusahaan seperti Anthropic menandakan bahwa persaingan global di bidang AI semakin ketat. Indonesia, yang tengah mendorong pengembangan ekosistem AI nasional melalui berbagai inisiatif seperti Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020-2045, perlu mempercepat pembangunan pusat data dan sumber daya komputasi dalam negeri agar tidak tertinggal. Jika tidak, kesenjangan akses terhadap teknologi AI antara negara maju dan berkembang akan semakin lebar.
Anthropic sendiri telah mengajukan IPO secara rahasia pada awal Juni 2026, meskipun detail jumlah saham yang ditawarkan dan kisaran harga belum diungkapkan. Sebelumnya, pada April lalu, Alphabet berencana menginvestasikan hingga 40 miliar dolar AS di Anthropic. Pendanaan terakhir startup ini terjadi pada akhir Mei, ketika mereka mengumpulkan 65 miliar dolar AS dengan valuasi pasca-pendanaan 965 miliar dolar AS—angka yang menempatkan Anthropic di atas OpenAI dalam hal valuasi. Dengan dana segar dan rencana ekspansi infrastruktur yang agresif, Anthropic tampaknya bersiap untuk bersaing langsung dengan raksasa AI lainnya. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah langkah ini cukup untuk mempertahankan posisinya di puncak industri AI, atau justru akan membebani keuangan perusahaan di tengah ketidakpastian pasar?



