Rahasia Comeback Serena Williams: Kisah David Quayle, Partner Latih dari Inggris
Baca dalam 60 detik
- David Quayle, petenis asal Wigan, dipanggil secara rahasia ke Florida untuk menjadi partner latih Serena Williams dalam persiapannya kembali ke turnamen.
- Quayle berhasil merahasiakan keterlibatannya selama berminggu-minggu, hanya memberi tahu keluarga, sebelum akhirnya terungkap saat Williams tampil di Queen's.
- Kisah ini menunjukkan betapa ketatnya kerahasiaan di balik comeback seorang legenda tenis, sekaligus membuka peluang bagi pelatih muda untuk belajar dari yang terbaik.

Seorang pemain tenis asal Inggris, David Quayle, harus menyembunyikan rapat-rapat identitasnya selama berminggu-minggu setelah diminta menjadi partner latih rahasia bagi Serena Williams yang bersiap kembali ke kompetisi profesional. Panggilan telepon yang diterimanya saat mengunjungi orang tuanya pada Mei lalu mengubah segalanya: ia diminta terbang ke Florida untuk membantu legenda tenis berusia 44 tahun itu berlatih.
Quayle, 26 tahun, yang sebelumnya pernah berbagi lapangan dengan Novak Djokovic dan Carlos Alcaraz di Wimbledon tahun lalu, mengaku sempat berjalan mondar-mandir di rumah karena kegembiraan. Namun, kegembiraan itu segera berubah menjadi tekanan untuk menjaga rahasia. "Ada kegembiraan bahwa dia akan bermain di Queen's, tapi belum ada yang tahu," ujarnya kepada BBC Sport. Ia hanya memberi tahu keluarganya tentang keberadaannya, sementara teman-temannya dibiarkan bertanya-tanya.
Selama lebih dari seminggu, Quayle berlatih bersama Williams di lapangan keras di salah satu properti miliknya di Florida. Ia tinggal dekat dengan Jarmere Jenkins, mantan partner latih Williams yang kini akan melatihnya bersama juara ganda Grand Slam Rennae Stubbs. Menariknya, Quayle ternyata sudah pernah berlatih dengan Williams sebelumnya, yaitu di Akademi Mouratoglou di Prancis menjelang French Open 2018, saat Williams kembali ke Grand Slam setelah cuti melahirkan. Jenkins meminta foto-foto lama untuk ditunjukkan kepada Williams, dan sang legenda tampaknya masih mengingat sedikit.
Latihan di Florida berjalan sukses, dan Quayle resmi dipekerjakan sebagai partner latih untuk turnamen Queen's yang saat itu masih dirahasiakan. Pekan ini, ia akan duduk di kotak pendukung Williams saat ia berpasangan dengan Victoria Mboko di nomor ganda melawan unggulan ketiga Nicole Melichar-Martinez dan Erin Routliffe. Cuaca basah di London membuat latihan di rumput terhambat, sehingga Quayle membantu mencari lapangan dalam ruangan di Hurlingham Club dan National Tennis Centre.
Quayle mengaku masih gugup saat pertama kali berlatih dengan Williams, meski sudah terbiasa menjadi partner latih profesional. "Lucu rasanya melihat seseorang yang servisnya Anda tonton di TV selama bertahun-tahun, lalu tiba-tiba servis itu datang ke arah Anda," katanya. Ia harus berjuang antara mengagumi pukulan-pukulan Williams dan benar-benar memainkannya. Namun, seiring waktu, ia mulai terbiasa dan menganggap setiap hari sebagai pengalaman istimewa.
Williams, yang dikenal sebagai salah satu atlet terhebat sepanjang masa, tetap menunjukkan level tinggi meski sudah lama tidak bertanding. "Dia belum kehilangan kemampuannya—dia masih bermain di level sangat tinggi. Dia adalah profesional sejati," puji Quayle. Ia juga memuji lingkungan tim yang suportif, di mana ia bebas memberikan masukan tentang latihan. "Kami selalu bercanda dan memiliki selera humor yang sama. Semua orang di tim membuat lingkungan ini sangat nyaman," tambahnya.
Setelah Queen's, Quayle diminta melanjutkan ke Berlin untuk turnamen kedua comeback Williams, dengan pasangan yang belum diumumkan. Ia belum tahu apakah Williams akan bermain di Wimbledon yang dimulai 29 Juni, tapi setidaknya ia lega rahasianya sudah terbongkar. "Saya merasa bisa bernapas lega sekarang setelah rahasia ini keluar," pungkasnya.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah ini mengingatkan pada perjalanan petenis tanah air yang juga pernah menjadi sparring partner bagi pemain top dunia. Kerahasiaan dan dedikasi Quayle menunjukkan bahwa di balik comeback seorang legenda, ada tim kecil yang bekerja tanpa sorotan—sebuah pelajaran tentang profesionalisme dan kesetiaan yang bisa menginspirasi atlet muda di mana pun.



