Thiago Motta Tolak Pinangan Timnas Italia, Pirlo Jadi Opsi Alternatif
Baca dalam 60 detik
- Thiago Motta menolak tawaran menukangi Italia setelah didekati Paolo Maldini dan Leonardo.
- Serie A memveto kandidat Silvio Baldini karena pernyataan kontroversialnya tentang klub-klub Italia.
- Andrea Pirlo akhirnya diproyeksikan menjadi pelatih baru Azzurri setelah sejumlah nama besar tidak bersedia.

Upaya Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk menemukan pengganti pelatih tim nasional senior menemui jalan terjal. Beberapa kandidat utama, termasuk Thiago Motta, justru menolak tawaran, sementara nama lain seperti Silvio Baldini mendapat tentangan dari klub-klub Serie A. Alhasil, Andrea Pirloโmantan gelandang yang belum pernah melatih di level seniorโkini menjadi pilihan utama.
Menurut laporan Corriere dello Sport, Paolo Maldini dan Leonardo, dua tokoh yang memimpin pencarian, telah menjajaki sejumlah nama besar. Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola juga sempat dihubungi, namun keduanya menyatakan tidak tersedia. Thiago Motta, yang saat ini menangani Juventus, disebutkan telah dihubungi dan dimintai kesediaannya. Namun, pelatih berusia 40 tahun itu dikabarkan menolak secara halus usulan tersebut.
Penolakan Motta kemudian membuka jalan bagi Pirlo. Meskipun namanya tidak masuk dalam daftar prioritas awal, tekanan waktu dan minimnya opsi membuat FIGC beralih ke legenda sepak bola Italia itu. Pirlo dijadwalkan akan diumumkan secara resmi dalam waktu dekat, meskipun pengalamannya yang minim menjadi pertanyaan besar di kalangan pengamat.
Sementara itu, Silvio Baldini yang sempat menukangi tim U-21 Italia pada dua laga uji coba melawan Luksemburg dan Yunani tidak pernah benar-benar dipertimbangkan untuk posisi permanen. Menurut sumber yang sama, klub-klub Serie A menolak pencalonannya karena pernyataan Baldini yang dianggap tidak menghormati presiden klub. Beberapa waktu lalu, Baldini menyebut para presiden klub Serie A sebagai "penjahat" dan menuduh mereka terperangkap dalam kepentingan pribadi serta pengaruh agen.
"Tidak ada yang mau bekerja dengan seseorang yang menghina kita semua," kata seorang petinggi klub Serie A yang enggan disebut namanya.
Kisruh ini mengingatkan pada situasi di Indonesia saat PSSI mencari pelatih timnas. Beberapa kandidat potensial sering kali menolak karena berbagai pertimbangan, sementara nama-nama kontroversial justru muncul ke permukaan. Perbedaan pendapat antara federasi dan klub juga kerap menjadi batu sandungan, seperti yang terjadi di Italia. Namun, dari sudut pandang akademi dan pembinaan, kasus ini menunjukkan bahwa menjadi pelatih tim nasional membutuhkan tidak sekadar reputasi, tetapi juga dukungan dari seluruh ekosistem sepak bola.
Keputusan final FIGC menunjuk Pirlo akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang. Pertanyaan besarnya adalah apakah pria yang identik dengan gaya bermain elegan saat menjadi pemain mampu membawa Italia kembali ke papan atas sepak bola Eropa, atau justru sebaliknya?



