Rupiah Tembus Rp18.180, Menkeu Purbaya Yakin Penguatan Tinggal Menunggu Waktu
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah menyentuh rekor terendah baru di Rp18.180 per dolar AS, dipicu indeks dolar yang masih perkasa.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis rupiah akan pulih dalam waktu dekat, meski mengakui level stabilitas belum jelas.
- Bank Indonesia diharapkan menjadi garda depan stabilisasi, namun tekanan eksternal dari penguatan dolar AS masih membatasi ruang gerak.

Di tengah pelemahan rupiah yang menembus level psikologis Rp18.180 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (9/6/2026), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru menyuarakan optimisme bahwa mata uang Garuda akan kembali perkasa dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pernyataan ini muncul saat rupiah mencatat rekor terendah baru dengan depresiasi 0,89% dalam sehari.
Purbaya, yang ditemui usai acara di Kementerian PPN/Bappenas, menegaskan bahwa pemerintah menyerahkan sepenuhnya upaya stabilisasi nilai tukar kepada Bank Indonesia (BI). "Kita harapkan rupiah bisa menguat dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kita serahkan semua ke bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar rupiah," ujarnya. Meski demikian, ia mengakui bahwa level stabilitas baru belum dapat dipastikan mengingat gejolak yang masih berlangsung.
Menurut Purbaya, ruang penguatan rupiah masih terbuka lebar. Ia meyakini bahwa kondisi saat ini bersifat sementara dan pasar akan menemukan keseimbangan baru. "Karena ini masih kejadian awal, kita enggak tahu stabilitasnya di mana, tapi pasti enggak akan seperti ini terus-terusan. Pasti akan memiliki stabilitas yang baru, di situlah kita akan melihat seperti apa pengawalan anggaran," jelasnya.
Bagi pelaku pasar dan investor Indonesia, pernyataan Menkeu ini memberikan secercah harapan di tengah kekhawatiran akan dampak pelemahan rupiah terhadap impor, inflasi, dan utang luar negeri. Namun, analis menilai bahwa optimisme pemerintah harus dibarengi dengan kebijakan moneter yang kredibel dan koordinasi fiskal yang solid. Tanpa itu, tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut seiring dengan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan di AS.
Di sisi lain, BI terus berupaya menstabilkan rupiah melalui operasi pasar terbuka dan instrumen moneter lainnya. Meski demikian, efek dari kebijakan tersebut belum terlihat signifikan karena dominasi dolar AS di pasar global. Purbaya sendiri mengakui bahwa stabilitas rupiah sangat tergantung pada pergerakan eksternal, terutama kebijakan Federal Reserve.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat rupiah bisa pulih dan pada level berapa stabilitas baru akan terbentuk. Jika tekanan eksternal berlanjut, bukan tidak mungkin rupiah kembali menguji level terendah baru. Namun, jika BI mampu mengelola ekspektasi dan fundamental ekonomi domestik tetap kuat, ruang penguatan yang disebut Purbaya bisa menjadi kenyataan.



