Inflasi AS dan Ketegangan Timur Tengah Picu Aksi Jual di Pasar Global
Baca dalam 60 detik
- Indeks utama Wall Street anjlok lebih dari 1,6% setelah data CPI AS menyentuh level tertinggi tiga tahun, memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga The Fed.
- Pasar Eropa dan Asia ikut tertekan menjelang keputusan suku bunga ECB, sementara konflik AS-Iran mendorong harga minyak Brent di atas 94 dolar AS per barel.
- Bursa saham Indonesia berpotensi terimbuh sentimen negatif global, meski sektor tambang dan energi bisa mendapat angin segar dari kenaikan harga komoditas.

Pasar saham global kompak bergerak negatif pada perdagangan Kamis (28/9/2023) setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan memicu kekhawatiran bank sentral akan terus menaikkan suku bunga. Kondisi ini diperparah oleh eskalasi konflik militer AS-Iran yang mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi tahun ini.
Indeks S&P 500 ditutup ambles 1,62%, sementara Nasdaq Composite merosot 1,98% dan Dow Jones Industrial Average kehilangan 1,87%. Menurut catatan First National Bank (FNB), rilis indeks harga konsumen (CPI) AS yang mencapai rekor tiga tahun terakhir menjadi pemicu utama aksi jual. Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan sikap hawkish dalam waktu lebih lama, mengingat harga energi yang masih tinggi turut mendorong inflasi.
Di Eropa, sikap wait-and-see mendominasi menjelang pengumuman suku bunga European Central Bank (ECB) pada hari yang sama. Euro Stoxx 50 terkoreksi 0,66%, sementara FTSE 100 di London justru menguat tipis 0,27% berkat penguatan saham properti dan sektor defensif. Pasar Asia-Pasifik juga tak luput dari tekanan: Hang Seng Index Hong Kong turun 1,11% akibat risiko pasokan energi dan sentimen rapuh, sedangkan Nikkei 225 hampir flat. Indeks ASX 200 Australia melemah 0,13%.
Bursa saham Indonesia, yang pada perdagangan sebelumnya sempat tertekan, diperkirakan akan kembali menghadapi tekanan jual. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melemah mengikuti sentimen global yang suram. Namun, kenaikan harga komoditas seperti emas dan minyak bumi bisa memberikan dukungan bagi saham-saham tambang dan energi di dalam negeri. Indeks ASX 300 Metals and Mining yang naik 0,52% menjadi sinyal positif bagi sektor pertambangan regional.
Sementara itu, bursa Afrika Selatan (JSE) juga bersiap dibuka lebih rendah setelah pada Rabu (27/9) indeks All Share jatuh 1,38% dan Top 40 merosot 1,48%. Sektor sumber daya menjadi yang paling terpukul dengan indeks Precious Metals Mining ambles 4,76%. Saham AngloGold Ashanti turun 5,9%, Northam Platinum melemah 6,3%, dan African Rainbow Minerals anjlok 8,1% ke level terendah enam bulan. Aksi jual ini dipicu oleh laporan serangan militer AS terhadap sasaran di Iran untuk hari kedua berturut-turut, yang meningkatkan ketidakpastian geopolitik.
Bagi investor Indonesia, kombinasi inflasi AS yang tinggi, konflik Timur Tengah, dan kebijakan moneter ketat di negara maju menjadi pengingat bahwa volatilitas masih akan berlanjut. Di sisi lain, kenaikan harga minyak dan logam mulia bisa menjadi berkah bagi emiten komoditas. Pertanyaan besarnya, akankah Bank Indonesia ikut menyesuaikan suku bunga acuan untuk mengantisipasi dampak rambatan global? Keputusan ECB pada Kamis ini akan menjadi salah satu petunjuk arah pasar ke depan.



