Empat Pasang Kakak-Adik Bela Negara Berbeda di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Fenomena migrasi global melahirkan empat set saudara kandung yang memperkuat tim nasional berbeda di Piala Dunia 2026.
- Kisah Inaki dan Nico Williams menjadi sorotan: Inaki memilih Ghana setelah sempat membela Spanyol, sementara Nico menjadi pilar La Roja.
- Belum ada jadwal pertemuan langsung antarsaudara di fase grup, namun potensi duel seru seperti Boateng bersaudara bisa terulang.
Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada menyajikan cerita unik: empat pasang saudara kandung akan berlaga, namun masing-masing membela negara yang berbeda. Fenomena ini mencerminkan bagaimana arus migrasi global telah mengubah peta sepak bola internasional, menciptakan ikatan darah yang terpisah oleh garis batas negara.
Dari empat pasang tersebut, dua di antaranya melibatkan pemain keturunan Afrika yang lahir di Eropa. Desire Doue, bintang muda Paris Saint-Germain yang baru berusia 20 tahun, akan memperkuat timnas Prancis. Sementara kakaknya, Guela Doue, justru memilih membela Pantai Gading, negara asal ayah mereka. Keduanya sama-sama lahir di Angers, Prancis, dan memulai karier di akademi Stade Rennais. Namun, jalan karier mereka berbeda: Desire melesat ke PSG dan meraih gelar juara Liga Champions, sedangkan Guela menjadi bek sayap andalan Les รlรฉphants.
Kisah serupa datang dari bersaudara Williams. Nico Williams, pemain sayap Athletic Bilbao yang baru berusia 23 tahun, menjadi pahlawan Spanyol saat menjuarai Euro 2024. Kakaknya, Inaki Williams, yang akan berusia 32 tahun, sempat membela Spanyol dalam satu laga persahabatan, namun kemudian beralih ke Ghanaโnegara asal orang tua mereka. Keputusan Inaki memanfaatkan aturan FIFA yang memperbolehkan pergantian kewarganegaraan sepak bola setelah jeda waktu tertentu.
Pasangan ketiga adalah Derrick Luckassen dan Brian Brobbey. Luckassen, bek Belanda kelahiran Amsterdam, baru dipanggil Ghana sebagai pengganti cedera. Ia bergabung dengan saudara tirinya, Brobbey, yang menjadi striker cadangan Belanda. Brobbey menjalani paruh kedua musim Premier League yang impresif bersama Sunderland. Mereka berbagi ibu yang sama namun ayah berbeda. Sementara itu, Harry Souttar, bek tengah Australia kelahiran Skotlandia, akan berhadapan dengan kakaknya, John Souttar, yang membela Skotlandia. Keduanya lahir di Aberdeen, namun ibu mereka orang Australia.
Menariknya, di fase grup Piala Dunia 2026, belum ada pertemuan langsung antarsaudara tersebut. Namun, bukan tidak mungkin mereka bertemu di babak gugur. Sejarah mencatat hanya satu kasus saudara saling berhadapan di Piala Dunia: Jerome Boateng (Jerman) dan Kevin-Prince Boateng (Ghana) pada 2010 dan 2014. Jerome mengenang, โPada 2010, itu benar-benar sesuatu yang baru, luar biasa. Namun pada 2014, rasanya berbeda karena kami sudah sering bertemu di Bundesliga.โ
Fenomena ini membuka diskusi tentang identitas dan loyalitas dalam sepak bola modern. Bagi Indonesia, yang memiliki diaspora besar di Belanda dan negara Eropa lainnya, kisah para pemain ini bisa menjadi cermin. Timnas Indonesia sendiri telah mulai memanfaatkan pemain keturunan, seperti Rafael Struick dan Ivar Jenner. Apakah suatu hari nanti akan lahir kisah serupa: dua saudara, satu darah, namun membela tim nasional berbeda? Atau justru Indonesia bisa menyatukan mereka dalam satu skuad?



