Tuchel Ubah Peran Kane: Dari Ujung Tombak Jadi 'False Nine' Pencetak Gol
Baca dalam 60 detik
- Harry Kane mencetak 61 gol dalam 51 pertandingan bersama Bayern Munich musim ini dengan peran baru sebagai false nine yang sering turun ke lini tengah.
- Thomas Tuchel membangun skuad Inggris di Piala Dunia 2026 dengan mengelilingi Kane dengan pemain sayap cepat dan gelandang ofensif untuk memaksimalkan ruang yang tercipta.
- Strategi ini telah terbukti efektif di level klub, dan diharapkan mampu membawa Inggris bersaing melawan tim-tim kuat di turnamen.

Thomas Tuchel, pelatih tim nasional Inggris, telah mengambil keputusan taktis yang berani: menjadikan Harry Kane sebagai false nine yang sering turun ke lini tengah, bukan sekadar ujung tombak yang menunggu di kotak penalti. Langkah ini diambil setelah melihat kesuksesan Kane bersama Bayern Munich musim lalu, di mana ia mencetak 61 gol dalam 51 pertandingan dengan peran yang lebih fleksibel.
Keputusan Tuchel memicu perdebatan di kalangan pengamat dan pendukung. Banyak yang mempertanyakan mengapa seorang pencetak gol ulung seperti Kane harus meninggalkan area penalti. Namun, data dan performa menunjukkan bahwa justru dengan turun lebih dalam, Kane mampu menciptakan lebih banyak peluang, baik untuk dirinya sendiri maupun rekan setimnya. Di Bayern, ketiadaan gelandang serang Jamal Musiala karena cedera memaksa Kane untuk mengisi peran sebagai penghubung antara lini belakang dan depan.
"Musim ini, saya diizinkan bermain sedikit lebih dalam, menggunakan kualitas saya dalam hal memutar badan dan mengirim bola ke depan, lalu tiba di kotak penalti lebih lambat," ujar Kane menggambarkan perannya di Bayern. Kemampuan passing-nya dari kedalaman menjadi senjata berbahaya, terutama ketika para pemain sayap seperti Michael Olise atau Luis Diaz berlari menembus pertahanan lawan.
Tuchel dengan sengaja membangun skuad Inggris di Piala Dunia 2026 dengan mengelilingi Kane dengan pemain-pemain yang unggul dalam berlari ke ruang kosong. Anthony Gordon, Marcus Rashford, Jude Bellingham, dan Nico O'Reilly adalah tipe pemain yang diharapkan memanfaatkan celah yang ditinggalkan bek lawan saat mengikuti Kane turun ke tengah. Strategi ini mirip dengan apa yang dilakukan Paris Saint-Germain bersama Ousmane Dembele, yang juga berperan sebagai false nine yang sulit diantisipasi.
Keputusan Tuchel untuk tidak menyertakan Trent Alexander-Arnold, Cole Palmer, dan Adam Wharton sempat dipertanyakan. Namun, kehadiran John Stones di lini belakang dan kemampuan Kane sebagai pengumpan jarak jauh dinilai cukup untuk mengompensasi ketiadaan pengumpan murni dari dalam. "Kami membangun skuad berdasarkan profil fisik dan kemampuan berlari, sehingga rotasi bisa dilakukan tanpa kehilangan keseimbangan," jelas Tuchel.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, strategi ini memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana seorang pelatih berani berinovasi dengan memanfaatkan kemampuan unik seorang pemain. Di tengah dominasi sepak bola Eropa, pendekatan Tuchel menunjukkan bahwa fleksibilitas taktis bisa menjadi kunci melawan tim-tim kuat. Pertanyaannya, akankah Inggris mampu mengulang kesuksesan Bayern Munich di panggung internasional? Piala Dunia 2026 akan menjadi jawabannya.



