John McGinn, Nyawa Baru Skotlandia di Panggung Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Aston Villa itu menjadi figur sentral Skotlandia dengan 20 gol dalam 86 penampilan, menempati peringkat lima pencetak gol terbanyak sepanjang masa negaranya.
- McGinn menolak terjebak dalam kontroversi pembatalan laga uji coba dengan Norwegia, menyebut keputusan pelatih Steve Clarke sebagai langkah profesional demi menjaga kebugaran pemain.
- Di usianya yang matang, McGinn siap menjadi mentor bagi pemain muda Skotlandia dan bertekad tampil lebih baik setelah dua turnamen besar sebelumnya yang kurang maksimal.

John McGinn datang ke Piala Dunia 2026 dengan beban harapan sekaligus kepercayaan diri yang tak pernah setinggi ini. Gelandang Aston Villa itu bukan hanya pencetak gol produktif, tetapi juga suara paling berpengaruh di ruang ganti Skotlandia. Dalam sesi konferensi pers di Charlotte, Amerika Serikat, McGinn menunjukkan kematangan yang jarang terlihat dari pemain seusianya.
Ketegangan sempat memanas setelah pelatih Norwegia, Stale Solbakken, dan manajer tim Brede Hangeland mengkritik keputusan Steve Clarke membatalkan laga uji coba antar pemain cadangan. Solbakken menyebut langkah itu "tidak profesional", sementara Hangeland menambahkan "memalukan" dan "lemah". Namun McGinn dengan tenang membela keputusan pelatihnya. "Jika Norwegia kehilangan Erling Haaland atau Martin Odegaard dalam laga menjelang Sabtu, mereka juga akan membatalkan pertandingan itu," ujarnya.
McGinn menekankan bahwa prioritas utama adalah menjaga kebugaran skuad, terutama setelah kehilangan Billy Gilmour yang cedera menjelang pemusatan latihan. "Kami tidak ingin kehilangan pemain lain. Ada beberapa cedera ringan, tidak semua pemain bisa berlatih penuh. Jadi ini cara profesional untuk melindungi kepentingan kami sendiri," tambahnya.
Di luar kontroversi, McGinn tengah berada dalam puncak karier. Ia baru saja meraih gelar juara Liga Europa bersama Aston Villa dan memastikan tempat di Liga Champions musim depan. Dengan 20 gol untuk Skotlandia, ia kini duduk di peringkat kelima daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa negaranya, hanya terpaut dua gol dari Lawrie Reilly dan tiga dari Hughie Gallacher. Ia juga hanya berjarak sepuluh gol dari legenda Denis Law dan Kenny Dalglish.
Namun, McGinn tidak hanya berbicara tentang angka. Ia juga merefleksikan pengalaman pahit di dua turnamen besar sebelumnya, termasuk Piala Eropa 2020 di mana ia sempat melakukan tarian tradisional Bavaria yang kemudian dianggap tidak tepat karena performa tim yang buruk. "Saya tidak akan banyak menari sebelum turnamen ini. Tapi jika kami berhasil lolos dari grup, saya akan memakai topi itu lagi dan menari," katanya sambil tersenyum.
Pelajaran yang ia petik adalah pentingnya fokus pada pertandingan, bukan pada euforia. "Di turnamen seperti ini, Anda membutuhkan pemain besar untuk tampil di momen besar. Saya akan menikmati antisipasi, tapi begitu mendekati hari pertandingan, saya akan fokus pada permainan, bukan pada acaranya," ujar McGinn.
Sebagai pemain senior, McGinn kini mengambil peran sebagai mentor bagi pemain muda seperti Tyler Fletcher, Findlay Curtis, dan Ben Gannon-Doak. Ia mengingat pesan dari mantan rekan setimnya di St Mirren, Stevie Thompson, yang mengatakan, "Ini jerseymu sekarang, jagalah." Kini McGinn menyampaikan pesan serupa kepada generasi berikutnya. "Jika mereka mendapat kesempatan, jersey itu milik mereka untuk dipertahankan. Kami semua menginginkan satu hal: kesuksesan negara ini," tegasnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah McGinn menawarkan pelajaran tentang pentingnya keseimbangan antara bakat dan kedewasaan. Di tengah sorotan media dan tekanan turnamen, McGinn menunjukkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu tetap tenang, fokus, dan menginspirasi rekan setimnya. Pertanyaannya, akankah Skotlandia akhirnya mampu melaju jauh di Piala Dunia setelah penantian panjang sejak 1998? Jawabannya akan mulai terlihat dalam beberapa pekan ke depan.



