Achmad Kalla Lepas Semua Saham BUKK, Raup Rp265,7 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Achmad Kalla menjual 405,7 juta saham Bukaka Teknik Utama (BUKK) pada 5 Juni 2026, mengantongi Rp265,75 miliar.
- Transisi kepemilikan ini diikuti aksi serupa pada 22 Mei senilai Rp195,2 miliar, menandai divestasi total Kalla Group dari BUKK.
- Dua investor, Nadia dan Laila Achmad, menyerap 269,2 juta saham dengan harga Rp725 per lembar, mengindikasikan restrukturisasi kepemilikan internal.

Pemilik saham mayoritas PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK), Achmad Kalla, memutuskan melepas seluruh kepemilikannya di perusahaan konstruksi dan infrastruktur tersebut. Transaksi yang berlangsung pada 5 Juni 2026 itu menghasilkan dana segar sebesar Rp265,75 miliar, mengakhiri era keterlibatan langsung Kalla Group di emiten bersandi BUKK.
Achmad Kalla menjual 405.722.360 saham biasa dengan harga Rp655 per lembar. Sebelum transaksi, ia menguasai 15,37% hak suara di BUKK. Setelahnya, kepemilikan sahamnya menjadi nol. Langkah ini merupakan bagian dari strategi divestasi yang telah direncanakan, setelah sebelumnya pada 22 Mei 2026 ia juga melepas saham BUKK senilai Rp195,2 miliar.
Menariknya, aksi jual ini diimbangi oleh pembelian dari dua pihak yang masih memiliki hubungan keluarga. Nadia Achmad dan Laila Achmad masing-masing membeli 134.614.701 saham pada harga Rp725 per saham, total mencapai 269.229.402 saham. Jumlah tersebut identik dengan volume saham yang dilepas Achmad Kalla dalam transaksi Mei lalu. Pola ini mengindikasikan adanya restrukturisasi kepemilikan di lingkaran internal Kalla Group, bukan semata-mata pelepasan ke pasar terbuka.
Bagi investor di pasar modal Indonesia, langkah Achmad Kalla ini patut dicermati. Divestasi total oleh tokoh bisnis sekaliber Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) periode 2015โ2021 ini bisa dimaknai sebagai sinyal perubahan strategi investasi grup. Bukaka Teknik Utama sendiri bergerak di bidang manufaktur alat berat, konstruksi baja, dan infrastruktur telekomunikasi. Pelepasan saham oleh pendiri bisa menimbulkan spekulasi mengenai prospek bisnis ke depan, meskipun serapan oleh pihak keluarga menunjukkan bahwa kendali tetap berada di lingkaran dekat.
Analis pasar menilai bahwa transaksi semacam ini kerap diikuti dengan pengumuman strategi baru atau aksi korporasi. "Divestasi total oleh pemegang saham utama biasanya mendahului perubahan signifikan, seperti masuknya investor strategis baru atau rencana ekspansi yang membutuhkan struktur kepemilikan yang lebih ramping," ujar seorang analis dari sebuah sekuritas nasional yang enggan disebutkan namanya. Namun, hingga berita ini diturunkan, manajemen BUKK belum memberikan pernyataan resmi mengenai rencana ke depan.
Kinerja saham BUKK yang masih bertahan di zona hijau pasca-pengumuman menunjukkan bahwa pasar belum bereaksi negatif. Kapitalisasi pasar yang mencapai Rp1,94 triliun juga menandakan bahwa fundamental perusahaan masih dipercaya. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah langkah Achmad Kalla ini akan diikuti oleh pemegang saham besar lainnya, atau justru membuka peluang bagi investor institusi untuk masuk.



