Bandung Legend dan Mazda GB FC Amankan Tiket ke Jepang: Kualifikasi U-12 Junior Soccer World Challenge 2026 Tuntas
Baca dalam 60 detik
- Mazda GB FC (Laos) juara setelah mengalahkan Bandung Legend 2-1 di final, namun kedua tim lolos ke putaran final di Chiba, Jepang, 21-24 Agustus 2026.
- Turnamen perdana Asia Tenggara ini diikuti 20 tim, menggunakan format 7 vs 7, dan dinilai sebagai ajang pembinaan usia dini bergengsi.
- Penyelenggara Jepang memuji kualitas pemain muda Indonesia, sementara pelatih Bandung Legend fokus pada transisi ke format 11 vs 11.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8032849/original/020448500_1780874510-WhatsApp_Image_2026-06-07_at_18.23.39.jpeg)
Babak kualifikasi Asia Tenggara U-12 Junior Soccer World Challenge 2026 rampung digelar di Stadion Soemantri Brojonegoro, Jakarta Selatan, pada 5β7 Juni 2026. Dua tim, Mazda GB FC dari Laos dan Bandung Legend asal Indonesia, memastikan diri melenggang ke putaran final yang akan berlangsung di Chiba, Jepang, pada 21β24 Agustus 2026.
Sebanyak 20 tim dari berbagai negara Asia Tenggara bertarung dalam turnamen yang untuk pertama kalinya menjadi kualifikasi resmi menuju ajang kelompok umur bergengsi tersebut. Pada laga puncak, Mazda GB FC menundukkan Bandung Legend dengan skor tipis 2-1. Meski kalah, Bandung Legend tetap berhak mendampingi sang juara mewakili kawasan Asia Tenggara di Jepang nanti.
Presiden Amazing Sports Lab Japan Inc. dan NARA CLUB, Mitsuru Hamada, mengaku terkesan dengan performa para pemain muda Indonesia. Menurutnya, kemampuan teknis dan fisik yang ditunjukkan sangat menjanjikan. "Saya kaget melihat kualitas para pemain muda Indonesia. Mereka punya tendangan yang bagus, dan larinya juga kencang. Mereka berpotensi bersaing di Jepang melawan akademi-akademi dari Eropa yang juga akan diundang," ujarnya. Hamada juga menyoroti atmosfer pertandingan yang luar biasa berkat dukungan penonton di stadion, berbeda dengan kebiasaan penonton di Jepang yang cenderung tenang.
Di sisi lain, Presiden Mazda GB FC, Thippanet Keanivong, mengakui perjalanan timnya tidak mudah. "Benar-benar pertandingan yang ketat di final, para pemain muda Indonesia juga sangat kuat. Namun kami sudah melakukan persiapan selama dua tahun untuk mengikuti ajang ini," katanya. Pelatih Bandung Legend, Budi Agil, menerima kekalahan dengan lapang dada dan menilai lawan tampil lebih terorganisir. Ia menyebut kesalahan kecil dari timnya menjadi faktor penentu. "Kalau soal ke Jepang, yang akan dipersiapkan nanti adalah transisi dari 7 vs 7 ke 11 vs 11. Saya akan buat program dan tambah pemain, karena cadangan minimal tujuh pemain untuk format 11 lawan 11," imbuhnya.
Turnamen U-12 Junior Soccer World Challenge dikenal sebagai salah satu ajang pembinaan usia muda paling prestisius di Asia. Sejumlah pemain top dunia seperti Lamine Yamal, Takefusa Kubo, Gavi, Ansu Fati, dan Xavi Simons pernah merasakan kompetisi ini sebelum menembus level profesional. Keikutsertaan Bandung Legend menjadi peluang emas bagi pembinaan sepak bola usia dini Indonesia untuk mengukur kemampuan di kancah internasional.
Bagi Indonesia, langkah Bandung Legend ke Jepang bukan sekadar prestasi, tetapi juga cerminan potensi besar yang dimiliki talenta muda Tanah Air. Dukungan penuh dari federasi dan klub diharapkan terus mengalir agar regenerasi pemain berkualitas tidak terputus. Pertanyaan selanjutnya, mampukah Bandung Legend bersaing dengan akademi-akademi elite Eropa dan Asia di Chiba nanti?



