Mahalnya Tiket Kereta ke Stadion Piala Dunia, Pemain Jerman Bayari 600 Suporter
Baca dalam 60 detik
- Enam ratus suporter Jerman akan diantar gratis ke pertandingan grup terakhir Piala Dunia setelah harga tiket kereta melonjak drastis.
- Kenaikan tarif transportasi di New York-Jersey dipicu keputusan FIFA tidak lagi mensubsidi biaya perjalanan, berbeda dengan turnamen sebelumnya.
- Langkah Joshua Kimmich dan rekan setimnya menyoroti kesenjangan antara janji tuan rumah dan realita biaya yang membebani penggemar.

Pemain tim nasional Jerman memutuskan merogoh kocek pribadi untuk membiayai perjalanan 600 suporter ke pertandingan terakhir fase grup Piala Dunia 2026 di New Jersey. Langkah ini muncul setelah gelombang kritik melanda penyelenggara terkait harga tiket transportasi yang dianggap tidak masuk akal.
Tiket kereta dari pusat New York ke MetLife Stadium, yang biasanya hanya 12,90 dolar AS, melonjak menjadi 150 dolar AS selama turnamen. Meski kemudian diturunkan menjadi 98 dolar AS, angka itu masih tujuh kali lipat dari tarif normal. Sementara itu, tarif bus antar-jemput yang semula 80 dolar AS akhirnya ditekan menjadi 20 dolar AS.
Gubernur New Jersey, Phil Murphy, menyalahkan FIFA yang menolak memberikan subsidi transportasi. Dalam Piala Dunia sebelumnya di Rusia dan Qatar, suporter menikmati transportasi gratis ke stadion dan zona penggemar. Amerika Serikat sebenarnya berjanji memberikan fasilitas serupa dalam perjanjian tuan rumah 2018, tetapi pada 2023 ketentuan itu diubah sehingga penonton dikenakan biaya sesuai nilai layanan.
Keputusan ini memicu reaksi keras dari penggemar, terutama karena jarak tempuh yang pendek namun tarif membengkak. Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) menyatakan, "Mengingat tingginya biaya bus dan kereta di New York selama Piala Dunia, para pemain timnas Jerman menyediakan transportasi gratis untuk 600 suporter pada pertandingan grup terakhir." Kapten Joshua Kimmich dan rekan setimnya menanggung biaya bus dari New York ke arena di New Jersey.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini menjadi pengingat bahwa biaya menonton langsung Piala Dunia tidak hanya soal tiket pertandingan. Jika Indonesia suatu saat menjadi tuan rumah, skema transportasi publik yang terjangkau akan menjadi faktor krusial dalam kepuasan suporter. Kasus di Amerika Serikat menunjukkan bahwa janji manis dalam proposal tuan rumah bisa berubah ketika turnamen berlangsung.
Pertanyaan yang mengemuka: apakah FIFA akan kembali meninjau kebijakan transportasi setelah protes suporter di New York? Atau justru akan menjadi preseden baru bahwa penggemar harus merogoh kocek lebih dalam untuk setiap aspek turnamen?

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7336618/original/055797600_1780120424-20260530_105918.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4909196/original/091860900_1722788402-Borneo_FC_-_Ilustrasi_Logo_Borneo_FC_2024_copy.jpg)
